Tolong dengarkan curhatku…
Diusiaku yang telah mendekati akhir dewasa ini, sejujurnya aku tak memiliki apapun selain kerapuhan seorang wanita dewasa yang dewasa hanya pada fisik dan umur yang menggerogoti dari hari kehari.
Selain dari itu jujur aku tak punya apapun lagi. Sejak kecil aku memang telah berpisah dengan dua orang tercinta yang aku butuhkan sebagai contoh dan peganganku saat terjatuh, namun keadaan sudah merenggut paksa semua hal yang aku butuhkan itu dengan secercah warna kehidupan berbeda.
Sejak kecil aku terbiasa berbaur pada keramaian yang tak pernah surut bahkan sampai aku membuka gerbang mimpi di malam hari, keramaian, keterasinganpun sudah tak dapat dibedakan lagi.
Kadang aku ingin menangis kala aku lelah dengan semua kerinduan, dan tiba-tiba akupun bangkit tertawa, berteriak pada langit bahwa aku masih punya banyak hal indah di dunia ini.
Lalu akupun akhirnya menyerah dengan semua airmata, aku pacu langkah demi langkah untuk mengejar ketertinggalanku dari teman-teman yang makan dan tidur bersamaku.
Aku berlari setiap pagi, mencoba berlomba dengan matahari untuk mendapat selangkah lebih dekat dengan ilmu demi masa depan yang selalu diceritrakan guru-guruku.
Lalu aku akan duduk manis di kursi dengan sepiring nasi pemberian bapak-ibu pegawai sosial dan aku akan melahapnya sampai piring itu bersih. Pernah ibu pembimbingku bertanya heran, kenapa aku selalu memakan ikan dengan tulang dan durinya, padahal jika aku tidak hati-hati mengunyahnya, duri itu bisa menusuk kerongkonganku. Waktu itu sambil malu aku sempat menjawab, kalau aku ingin menjadi orang yang bermanfaat seperti ikan ini, dengan fitamin dan energinya, bahkan sampai pada tulang dan duri itu aku ingin menghabiskannya, karena aku tak ingin ada sedikitpun kebaikan dari ikan itu yang terbuang dan akhirnya kucinglah yang mendapatkannya.
Kata orang dulu aku anak yang manis. Aku punya banyak kelebihan yang bisa jadi modal besar dalam menjemput keberuntungan hidup di usia dewasa.
Tak jarang aku membanggakan hasil perbuatanku pada mereka yang sangat menyayangiku, aku berbuat begitu karena aku ingin terus diberikan cahaya dan semangat, agar aku tak merasa terasing dengan keadaan dan yang paling penting aku tak pernah merasa kehilangan.
Setiap aku akan menutup dua mataku, aku selalu menumpahkan airmata di bawah selimut tipisku, airmata kelelahan dan doa bercampur menjadi satu isakan.
Saat itulah aku mengadukan segala gejolak perasaan yang tak pernah aku ungkapkan pada siapapun selain pada Allah. Aku tak bisa menyangkal mesti ada yang mengeras di bola mataku, bahwa aku kadang lelah dengan hidup yang membuat aku tertawa namun kemudian membuatku jatuh merintih. Apa lagi sosok ibu bapak yang menjadi bayangan di setiap malam, tahukah mereka saat aku menginginkan ada di antaranya dan merasakan belai hangatnya? Tahukah mereka ketika siang tadi di sekolah aku mendapat nilai yang baik dan aku ingin memberitahunya? Tahukah mereka bahwa tadi di tempat bermain aku dikucilkan karena aku tak punya uang jajan untuk ditukar dengan sebungkus roti atau sekotak coklat?
Kesemuanya itu ingin aku katakan pada mereka karena aku hanya ingin diberikan kedamaian lewat tangan-tangan mereka
Lalu setelah puas aku mengadukan semuanya pada Allah, akupun tak ingat lagi, karena yang kuingat hanyalah sebuah kekuatan besar ketika ada semburan-semburan air yang mengguyur tubuhku. Dan Allah memberi hal yang sebenarnya jauh aku butuhkan dari sekedar belayan kasih sayang.
Sekarang usiaku sudah termakan matahari, entah karena matahari itu terlalu panas sehingga akupun tak kuat dengan teriknya yang bukan hanya menumbuhkan kekuatan besar di hidupku, namun juga menelanjangi diriku dari segala malu.
Dari hari kehari, aku menjalani semua skenario kehidupan dengan status air yang mengikuti kemana akan bermuara
Adapun aku yang kadang tergelincir karena licinnya roda nasib atau harus terpaksa duduk beristirahat untuk sekedar membenahi segala beban yang kubawa agar tak sampai ada yang hilang atau rusak.
Semua aku jalankan sampai melewati 6, 7, 8, atau belasan tahun dengan matahari yang sama.
Kini, aku baru mengerti, kenapa aku selalu merasakan banyak yang patah dari sum-sum kehidupanku, dan kenapa pula matahari itu memberi panas yang makin hari makin menyengat hingga aku terbakar bahkan nyaris aku hangus menghitam.
Matahari itu telah membakar habis rasa Maluku sebagai wanita terhormat yang disucikan karena kesalehannya, dan matahari itu membakar kelembutan hatiku dengan amarah dan kedengkian tak terlukiskan yang setiap hari membuat persoalan pelik dari lingkungan sekitarku.
Matahari itu matahari yang sama, dicipta karena keberkahannya, diberi karena kebaikannya, namun aku yang malah memanfaatkannya bukan hanya untuk mempertebal daya tahan tubuhku dari segala penyakit dunia atau akhirat, karena buktinya aku tumbuh tak ubahnya batang pisang yang setiap lapisan punya kerapuhan yang luarbiasa.
Di bagian sana sini berlubang, kecil ataupun besar, di bagaian lain busuk berbau, dan di bagian lain kering tertiup angin.
Sahabat, intinya satu hal yang ingin kukatakan, bahwa aku telah menemui bagian paling patah dan sulit untuk bisa tersambung, karena bagian yang patah itu telah membusuk, dan sangat rapuh. Dan aku hanya minta satu hal sebelum nanti aka nada azab besar merontokkan segala yang aku masih punya, yakni, seuntai doa agar nanti di akhirat, aku masih punya tempat untuk sekedar mengurangi rasa dahaga.
Selasa, 07 Februari 2012
epilog Abu-abu
Selasa, 03 Januari 2012
Sejarah Perkembangan Al-quran Braille di Indonesia
e
Sejarah Perkembangan Al Quran Braille di Indonesia « Komunitas Sahabat Mata
Sejarah Perkembangan Al Quran Braille di Indonesia « Komunitas Sahabat Mata
08/20090318153447Proses Masuknya Al-Qur’an Braille di Indonesia
Dalam Al-Qur’an Braille terbitan Yordania tahun 1952 tercantum dalam halaman pembuka dicantumkan bahwa abjad Braille lengkap dengan tanda sakalnya disahkan
oleh UNESCO tahun 1951, dan Al-Qur’an terbitan Yordania jilid 6 yang berisi awal surat Al-Ankabut sampai dengan akhir surat Az-Zumar dikirim ke Indonesia
oleh Prof. Dr. Mahmud Syaltut. Menurut Bapak Moch. Solichin, BA (Ketua Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam Yogyakarta) menyebutkan bahwa pada sampul
A
l-Qur’an tersebut terdapat tanda tangan Prof. Dr. Mahmud Syaltut tahun 1956.
l-Qur’an tersebut terdapat tanda tangan Prof. Dr. Mahmud Syaltut tahun 1956.
my beautiful stories on New Year's Eve
Malam tahun baru oleh kebanyakan orang dijadikan moment untuk bersukacita.
Banyak di antara mereka khususnya kalangan muda merayakan dengan cara-cara klasik seperti menyalakan petasan dan kembang api, berkumpul bersama teman-teman di tempat menyenangkan, atau mungkin melaluinya dengan hanya berkumpul bersama keluarga tercinta sambil menyaksikan hiburan para artis negeri di depan televise.
Senin, 02 Januari 2012
ADA APA DI BALIK TAK EFEKTIPNYA JPO DI JALAN PAJAJARAN BANDUNG?
Seperti yang telah dikutip berbagai media cetak maupun elektronik akhir-akhir ini,
Jembatan penyebrangan yang dikhususkan pemerintah kota Bandung bagi para Difabel dirasa kurang efektif bahkan lambat laun akan jadi tidak efektif lagi.
Jembatan setinggi 8 meter dengan tekstur melandai ini memang berbeda bila dibandingkan dengan jembatan penyebrangan pada umumnya.
Tahun 2005 lalu jembatan ini berdiri kokoh setelah pemerintah kota Bandung menerima keluhan dari para difabel khususnya penyandang tunanetra dan tuna daksa yang banyak beraktifitas di sekitar jalan Pajajaran Bandung.
Pertimbangan lainnya adalah, kompleks PSBN Wyataguna yang menjadi pusat penyandang tunanetra berada tepat di seberang GOR Koni dan banyak digunakan organisasi penyandang tuna daksa dan para difabel lainnya beraktifitas.
Perubahan jalur kendaraan yang diberlakukan sejak awal tahun 2004 itu mengakibatkan kecemasan tersendiri bagi mereka atas berubahnya jalur kendaraan menjadi satu arah
Berdirinya JPO ini ternyata masih saja menyisakan sedikit masalah bagi para difabel (pengguna JPO).
Mereka mengeluhkan tekstur jembatan yang menurun menanjak dengan jumlah kurang lebih 4 kali panjangnya dari jembatan biasa mengakibatkan proses menyebrang menjadi sangat melelahkan.
Pembuatan jembatan dengan model seperti itu dimaksudkan agar para penyandang tuna daksa yang mengunakan cruk dan kursi roda dapat memanfaatkan pula sarana ini.
Sejak awal dipergunakan hingga sekarang, banyak permasalahan yang timbul dan dirasakan langsung oleh para pengguna JPO. Ukuran jembatan yang sangat panjang dengan dilengkapi penutup di bagian atasnya, menjadikan jembatan ini punya daya tarik tersendiri bagi beberapa pihak yang sama sekali tak berkepentingan dengan daya guna sarana ini.
Jika kita melewati jembatan unik ini, tak jarang kita temukan para pengemis, orang hilang ingatan, bahkan dipertengahan malam digunakan untuk kejahatan.
Para tunanetra yang seharusnya menikmati fasilitas ini sebagai alternative menyebrang yang lebih aman, justru mengalami banyak kejadian tak menyenangkan.
Cerita tentang dimaki-maki pengemis yang terinjak kakinya saat tertidur di jembatan sampai cerita diolok-olok dengan kata-kata kasar oleh orang yang kurang waras menjadi cerita sehari-hari dari mereka yang menyebrang dengan JPO ini.
Bahkan, cerita yang mengerikan pernah dituturkan seorang tunanetra yang mengalami perampokan saat dia tengah menyebrang di malam hari.
Permasalahan di atas lama kelamaan menjadikan JPO di Pajajaran bukan lagi sarana menyebrang yang efektif bagi para difabel, dan pada akhirnya mereka lebih memilih menyebrang dengan jalan bawah jembatan meskipun harus menunggu orang yang bersedia membantu.
Sebenarnya permasalahan ini tak perlu ada, bila semua pihak ikut peduli dengan turut andil mengawasi dan mengamankan JPO supaya lebih bermanfaat.
Para petugas keamanan yang disiagakan di pintu gerbang GOR dan Wyataguna dekat jembatan ini diharapkan bekerjasama untuk kenyamanan penyebrangan.
Sedikit kepedulian dari semua pihak akan kembali menjadikan sarana yang dibangun dari dana tak sedikit ini tidak menjadi sia-sia.
Ceritaku bersama Nui
“Pagar makan tanaman”
Begitu kira-kira yang ada dalam fikiran sebagian teman2 baruku di tempat nan jauh di sana terhadapku.
Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, pertengahan bulan April sampai pertengahan Juni lalu aku mengembara di sebuah lingkungan sekolah yang baru. Tak perlu lg aku ceritakan tujuan dan perananku di sana, sebab pernah aku ceritakan dulu bukan?
Ini permasalahan cukup serius menurutku.
Sebenarnya aku udah merasa jenuh kalau harus bercerita tentang masalah yang satu ini niiiiih? Soalnya sesuatu banget duech. :D
Tp gapapa lah semoga ada hikmahnya juga yah?
Di tempat itu aku mengenal puluhan siswa yang usianya banyak sebaya denganku. Selain itu para pengelola yayasan dan tek-tek bengeknya. Semua akrab dan penuh rasa kekeluragaan saat mereka mengenalku pada hari pertama perkenalan.
Selain beberapa guru, tenaga pramu, dan honorer yang akrab denganku, beberapa siswa yang umurnya hanya terpaut satu dua tahun denganku, kuanggap lebih dari sekedar sahabat melainkan kuanggap seperti saudara sendiri.
Salahsatu diantaranya kukenali Bernama Dwi Andini Putri yang akrab kupanggil Nui. Begitulah yang kukenang manis adalah nama special kesayangan yang kuperuntukan untuknya.
Nui adalah gadis yang sangat special di mataku. Dia gadis luar biasa, dengan latar belakang tunanetra terkena sinar berlebih dalam incubator saat dia dan saudara kembarnya dilahirkan 27 tahun lalu.
Tak pernah menikmati secuilpun bangku sekolah seprti halnya saudara kembarnya yang punya penglihatan normal. Namun tangan trampil dan hati tulus sang ibu mampu membangun kecantikan luarbiasa pada diri putrid bungsunya itu. Nui gadis yang salehah, tak pernah sedetikpun jilbab mungilnya terlepas dari kepalanya saat berada di luar kamar, atau tak pernah kudengar dia tertawa keras saat bercanda dengan kita teman-temannya.
Nui gadis yang mungil, jika kami berjalan berdua, para pengurus yayasan akan memanggil kami si kembar. Yah, secara tubuhku juga emang kecil sih. Hehe. Pengalamanku dgn tubuh kecil ini pernah membawaku di SMA 7 Bandung pagi itu aku terlambat hingga jam sudah menunjukan pukul 7.10 menit. Aku berlari menyusuri koridor sekolah yang telah sepi. Persis di depan pintu kelas ipa 2, kudengar suara seorang kakak kelas bicara dari dalam ruangan, “”Anak kelinci siapa tuh lari-lari di depan kelas” gubrak! Segitunyakah aku dan badan kecilku?
Sialnya lg pas aku curhat ma temen sebangkuku Defi, dia malah ketawa sambil mencubit pipiku.” Masih untung kamu gak dibilang anak kelinci bukan anak tikus”
Sejak aku kenalan dengan Nui, akupun berkenalan dengan pacarnya Nui bernama Rain.
Rain sangat cocok bersama Nui, dia cowok yang kalem, pendiam, dan sangat mengatur kata-katanya.
Ada sedikit persoalan saat aku dikabarkan dekat dengan salahsatu pegawai di sana. Sikap Rain yang baik dan sangat ramah padaku, berubah drastis menjadi dingin dan tampak tak bersahabat.
Tak lama aku di tempat itu. Dan salahsatu yang membuat aku sedih adalah berpisahnya aku dengan Nui sahabatku.
Kemarin Nui menelponku. Suaranya parau penuh tangis.
“Nens! Rain menghianati aku. Dia udah cerita semua ko, kalau dia telah mencintai kamu dan berterusterang kalau suatu hari dia akan menyatakan perasaannya sama kamu secara langsung”.
“Apa Nui”? Suaraku tampak tersentak saat mendengar pengaduan Nui. Yah, tersentak yang dibuat-buat tepatnya. Sebenarnya aku tak terkejut dengan kabar buruk dari Nui itu, sebulan lalu aku pernah menerima telpon dari Rain n dan mendengar langsung ungkapan polosnya tentang perasaan cinta padaku.
Sempat dek-dekan juga sih, sebab selama aku mengenalnya kami tak pernah banyak berkomunikasi, semua itu penyebabnya adalah kecemburuan Nui yang sangat berlebihan pada lelaki yang juga penderita glaucoma itu.
Dengan ucapan yang datar, aku seolah-olah tak tahu menahu tentang perasaan Rain terhadapku, malah aku beri Nui saran agar dia mau memaafkan kesalahan Rain dan menjalin kembali hubungan mereka.
Kukatakan dalam hatiku!
“Aku gak pernah mencintai siapapun selain Eby! Dia lelaki idamanku, yang pernah kukejar dan kukoyak benteng pertahanannya beberapa tahun lalu. Biarpun sekarang dan mungkin selamanya Eby tak lagi memikirkanku, tapi biarlah, akan tetap kunanti ia sampai kematianku”.
Senin, 26 Desember 2011
Who is Khalil Gibran?
Tak lengkap rasanya jika kita belum mengenal seorang pujaan kita. Berikut sekelumit tentang Khalil Gibran berseumber dari
wikipedia.
Khalil Gibran (juga dieja Khalil Gibran; lahir Gibran Khalil Gibran,
bahasa Arab:
جبران خليل جبران, lahir di
Lebanon,
6 Januari
1883
– meninggal di
New York City,
Amerika Serikat,
10 April
1931
wikipedia.
Khalil Gibran (juga dieja Khalil Gibran; lahir Gibran Khalil Gibran,
bahasa Arab:
جبران خليل جبران, lahir di
Lebanon,
6 Januari
1883
– meninggal di
New York City,
Amerika Serikat,
10 April
1931
Nahkoda cintaku
Ku. Termangu menatap mimpi
Dimana tersungging senyummu dan aku
Ya. Tentu sarat kata bahagia, urai makna cinta
Dahulu tak kusentuhkan sedikitpun bibir ini
Di air jernih pualam hatimu
Namun kini
Rindu aku mengecup manisnya madu kasihmu
Untuk sekerat kalbu tak membiru
Atau segenggam harap yang meradang gejolak cintaku
Putih memang dermaga itu
Rinai memang gelombang itu
Sebias pandang cukup jelaskan arti kita
Tuk mendekap segala asa dan rasa luar biasa
Yang ganasnya lebihi ombak
Atau kerasnya lebihi karang
Sebab cinta kita hanya ada pada tingginya mercusuar
Dan hanya bintang
Yang sanggup sentuhkan sinar keabadian
Atas janji dan indahnya perjalanan
Duhai cinta
Agungmu pesonakan kerontangnya jiwa
Sahajamu priyaikan ikrar sederhana
Akankah dongeng seribu bidadari setia
Tuk menjaga cinta kita
Putih abadi dalam mutiara yang nyata
Dimana tersungging senyummu dan aku
Ya. Tentu sarat kata bahagia, urai makna cinta
Dahulu tak kusentuhkan sedikitpun bibir ini
Di air jernih pualam hatimu
Namun kini
Rindu aku mengecup manisnya madu kasihmu
Untuk sekerat kalbu tak membiru
Atau segenggam harap yang meradang gejolak cintaku
Putih memang dermaga itu
Rinai memang gelombang itu
Sebias pandang cukup jelaskan arti kita
Tuk mendekap segala asa dan rasa luar biasa
Yang ganasnya lebihi ombak
Atau kerasnya lebihi karang
Sebab cinta kita hanya ada pada tingginya mercusuar
Dan hanya bintang
Yang sanggup sentuhkan sinar keabadian
Atas janji dan indahnya perjalanan
Duhai cinta
Agungmu pesonakan kerontangnya jiwa
Sahajamu priyaikan ikrar sederhana
Akankah dongeng seribu bidadari setia
Tuk menjaga cinta kita
Putih abadi dalam mutiara yang nyata
Perpisahan dengannya
Sore dengan gerimis yang tenang. Tanpa petir terlebih kilat yang menyambar-nyambar.
Bila sekarang aku sendiri menatapnya. Dua tahun lalu aku bersamanya. Berpegang erat dua tangannya, menepis grimis dengan mencari kenyamanan memedamkan
wajahku di balik punggungnya.
Tempat kami duduk bukanlah bangku kramik di tengah taman mawar, hanya sebuah batu 4 sisi di bawah palem setengah gundul. Tapi bukan itu yang kami anggap
pendingin bahagia kami.
Justru keadaan seperti itulah yang menambah syahdunya cinta kami.
Bukan waktu yang sebentar untuk mendapat genggaman tangannya. Boleh dibilang aku mengundang mimpi pada setiap jantung malam.
Dan perpisahan itu harus terjadi juga, saat aku benar-benar membutuhkan tangannya, tuk menambah kekuatan yang semakin rapuh di hatiku.
Sekarang aku tak temukan lagi bayangku di hatinya, tak pula di setiap gerak-geriknya.
Sungguh aku telah melumat. Sepertinya gerimis yang tenang itu, justru dengan ketenangannya, membuatku kecolongan kehilangan cintanya.
Bila sekarang aku sendiri menatapnya. Dua tahun lalu aku bersamanya. Berpegang erat dua tangannya, menepis grimis dengan mencari kenyamanan memedamkan
wajahku di balik punggungnya.
Tempat kami duduk bukanlah bangku kramik di tengah taman mawar, hanya sebuah batu 4 sisi di bawah palem setengah gundul. Tapi bukan itu yang kami anggap
pendingin bahagia kami.
Justru keadaan seperti itulah yang menambah syahdunya cinta kami.
Bukan waktu yang sebentar untuk mendapat genggaman tangannya. Boleh dibilang aku mengundang mimpi pada setiap jantung malam.
Dan perpisahan itu harus terjadi juga, saat aku benar-benar membutuhkan tangannya, tuk menambah kekuatan yang semakin rapuh di hatiku.
Sekarang aku tak temukan lagi bayangku di hatinya, tak pula di setiap gerak-geriknya.
Sungguh aku telah melumat. Sepertinya gerimis yang tenang itu, justru dengan ketenangannya, membuatku kecolongan kehilangan cintanya.
Label:
diary of love
| Reaksi: |
Dari Perselingkuhan Suamiku
Usai menutup telpon di meja kerjanya, Galang kembali pada setumpuk dokumen di hadapannya, tapi kali ini wajahnya sedikit gelisah. Tumpukan dokumen yang
dua jam lalu dicermatinya kini cukup saja dibolak-balik dan kesimpulannya dia tak lagi berkonsentrasi. Suara Andin yang parau di sebrang telpon tadi jelas
mengharuskan dirinya segera angkat kaki dari kantor pukul dua siang itu.
dua jam lalu dicermatinya kini cukup saja dibolak-balik dan kesimpulannya dia tak lagi berkonsentrasi. Suara Andin yang parau di sebrang telpon tadi jelas
mengharuskan dirinya segera angkat kaki dari kantor pukul dua siang itu.
Jerit Hati Istri Disabilitas
“Kiranya kapan penderitaan ini berakhir”?
Itu dan itu yang selalu kupertanyaakan dalam hidup ini, tepatnya sejak aku tiba-tiba mengalami kebutaan, saat anak-anakku sangat membutuhkan perananku
sebagai seorang ibu, dan suamiku yang tiba-tiba ingin menceraiku.
Sudah hamper setahun aku berada di tempat ini. Menggali sedikit demi sedikit apa yang bisa kuhasilkan dengan tanganku, dan mengumpulkan puing-puing kepercayaan
atas segala sesuatu yang pernah tumbuh dalam hatiku.
Itu dan itu yang selalu kupertanyaakan dalam hidup ini, tepatnya sejak aku tiba-tiba mengalami kebutaan, saat anak-anakku sangat membutuhkan perananku
sebagai seorang ibu, dan suamiku yang tiba-tiba ingin menceraiku.
Sudah hamper setahun aku berada di tempat ini. Menggali sedikit demi sedikit apa yang bisa kuhasilkan dengan tanganku, dan mengumpulkan puing-puing kepercayaan
atas segala sesuatu yang pernah tumbuh dalam hatiku.
Minggu, 25 Desember 2011
Taylor Swift - Back to December
I'm so glad you made time to see me.
How's life, tell me how's your family?
I haven't seen them in a while.
You've been gone, busier then ever.
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why.
Cause the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.
So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night,
And I go back to December all the time.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I go back to December all the time.
These days I haven't been sleeping
Staying up playing back myself leaving,
When your birthday passed and I didn't call.
And I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
Realized that I loved you in the fall.
Then the cold came, the dark days when fear crept into my mind.
You gave me all your love and all I gave you was goodbye.
So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night.
And I go back to December all the time.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December turn around and change my own mind.
I go back to December all the time
I miss your tan skin, your sweet smile, so good to me, so right,
And how you held me in your arms that September night,
The first time you ever saw me cry.
Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming
If we loved again I swear I'd love you right.
I'd go back in time and change it but I can't
So if the chain is on your door, I understand.
But this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night,
And I go back to December.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December turn around and make it alright.
I'd go back to December turn around and change my own mind.
I go back to December all the time.
How's life, tell me how's your family?
I haven't seen them in a while.
You've been gone, busier then ever.
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why.
Cause the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.
So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night,
And I go back to December all the time.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I go back to December all the time.
These days I haven't been sleeping
Staying up playing back myself leaving,
When your birthday passed and I didn't call.
And I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
Realized that I loved you in the fall.
Then the cold came, the dark days when fear crept into my mind.
You gave me all your love and all I gave you was goodbye.
So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night.
And I go back to December all the time.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December turn around and change my own mind.
I go back to December all the time
I miss your tan skin, your sweet smile, so good to me, so right,
And how you held me in your arms that September night,
The first time you ever saw me cry.
Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming
If we loved again I swear I'd love you right.
I'd go back in time and change it but I can't
So if the chain is on your door, I understand.
But this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night,
And I go back to December.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December turn around and make it alright.
I'd go back to December turn around and change my own mind.
I go back to December all the time.
DELTA GOODREM LYRICS - Together We Are One
Here we are
Sharing our lives
We made it through
The good and bad times
And still we stand
With hope in our hearts
No matter what
We will play our part
And now we've come so far
One chance to touch a star
Go higher and higher
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime's preparation
It’s no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the sun
See what we've all become
Together we are one
Deep inside your heart and soul
You’ve worked so hard
To reach your goal
With every step
With every breath
You gave it all
Till there was nothing left
Seek out the strength to win
No thoughts of giving in
Go higher and higher
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime's preparation
It’s no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the sun
See what we've all become
Together we are one
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime's preparation
It’s no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the sun
See what we've all become
Together we are one
See what we've all become
Together we are one
Sharing our lives
We made it through
The good and bad times
And still we stand
With hope in our hearts
No matter what
We will play our part
And now we've come so far
One chance to touch a star
Go higher and higher
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime's preparation
It’s no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the sun
See what we've all become
Together we are one
Deep inside your heart and soul
You’ve worked so hard
To reach your goal
With every step
With every breath
You gave it all
Till there was nothing left
Seek out the strength to win
No thoughts of giving in
Go higher and higher
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime's preparation
It’s no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the sun
See what we've all become
Together we are one
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime's preparation
It’s no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the sun
See what we've all become
Together we are one
See what we've all become
Together we are one
LEST ANY LIE
LEST ANY LIE
Jujurlah dari hatimu,
Lihat riak sungai itu,
Dibuat tak jernih oleh katamu.
LEST ANY LIE
Sayangi dirimu,
Buat cinta itu suci,
Hingga bintang letih berkedip,
Mahkotanya tetap cemerlang di langit.
LEST ANY LIE
Biar jemarimu yang bicara,
Bila bibirmu terlanjur kelu,
Atau isyaratmu tak lagi peka,
Petuah itu akan dating di rongga dadamu.
LEST ANY LIE
Semua akan indah pada waktunya bukan?
Meski lidah tak kecupkan selaksa makna,
Namun inilah kata sederhana,
Sarat akan bahagia.
Jujurlah dari hatimu,
Lihat riak sungai itu,
Dibuat tak jernih oleh katamu.
LEST ANY LIE
Sayangi dirimu,
Buat cinta itu suci,
Hingga bintang letih berkedip,
Mahkotanya tetap cemerlang di langit.
LEST ANY LIE
Biar jemarimu yang bicara,
Bila bibirmu terlanjur kelu,
Atau isyaratmu tak lagi peka,
Petuah itu akan dating di rongga dadamu.
LEST ANY LIE
Semua akan indah pada waktunya bukan?
Meski lidah tak kecupkan selaksa makna,
Namun inilah kata sederhana,
Sarat akan bahagia.
Jumat, 02 Desember 2011
Tips sederhana menyusun skripsi kita
Saat berbincang-bincang santai bersama beberapa temanku sesama penyandang tunanetra yang sedang menempuh smester-smester akhir di bangku kuliah, hal yang paling berat dibicarakan adalah masalah penyusunan skripsi.
Deskripsi proses penusunan karia ilmiah yang merupakan syarat mutlak bagi gelar S1 ini sepertinya jadi momok yang hebat khususnya di kalangan mahasiswa tunanetra.
Telah Tiba Waktunya
Gerimis itu seperti sedang menangis.
Menangisi apa? Menangisi diriku?
Ah! Konyol, aku saja tak tahu apa hal ini mesti jadi bahan tangisan atau justru bahan perenungan.
Senin, 28 November 2011
Pelabuhan Akhir sang Inspirator
Apa yang sesungguhnya diinginkan oleh tiap diri manusia? Angan-angan yang membumbung sampai gumpalan awan sepertinya Cuma klise. Yang terbukti hanyalah goresan pendek-pendek yang terukir seiring bekas telapak hidup yang pernah dilangkahkan.
Senin, 21 November 2011
Mengeritisi Kritik Sastra
Menurut Andre Harjana kata kritik baru di gunakan pada saat Hb Yasin meluncurkan bukunya kesastraan indonesia dalam kritik dan essei, disitu kata kritik mulai kokoh di gunakan dan pengertiannya pun mulai kokoh, tetapi bagaimana dengan perkembangannya, apakah dengan kokohnya pengertian dan istilah kritik itu kemudian perkembangan kritik sastra itu menjadi kokoh?
Di Bahumu Kusandarkan Cintaku
Nama gadis bertongkat itu Syakila. Belum genap 21 tahun usianya. Dia cukup menarik, walaupun keadaan fisiknya berbeda dari teman-teman sekampusnya. Saat
usia 7 tahun, Kila terpaksa harus menerima kecacatan pada kedua matanya setelah melewati berkali-kali operasi. Dokter tak sanggup lagi menangani kerusakan
pada syaraf mata gadis manis itu. Kila akhirnya dibawa orangtuanya pulang ke kampung halamannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Empat bulan pasca operasi, tibalah tahun ajaran baru. Semua teman Kila berbondong-bondong memasuki bangku sekolah. Rupanya nasib gadis itupun tak sedramatis
yang dikira. Sebuah surat pemberitahuan tentang lembaga khusus yang berorientasi pada masalah kecacatan sejenis yang dialami Kila mampu merubah suram di
hati gadis itu. Setelah melewati tahap pertimbangan yang cukup lama, orang tua Kila melepaskan putri mereka untuk diserahkan pada tangan-tangan ahli.
Tak terasa, sudah lebih dari 13 tahun keberadaan Kila di kota besar itu. Sebuah kompleks asrama telah membesarkan dirinya, hatinya, juga harapan-harapannya.
Dia bukan hanya tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan menarik, tapi keberaniannya dalam mengambil sebuah sikap tegas dalam kehidupan itulah yang menjadikan
gadis ini sedikit berbeda dari teman-teman sebayanya.
"Syakila Humaniara!" Kila segera mengangkat sebelah tangannya, saat dosen baru itu mengabsen namanya.
"Kamu? Mahasiswi yang beberapa hari lalu mengajukan protes pada bagian pemeliharaan kampus itu bukan?" Tanya dosen itu serius memandangi Kila.
"Ya pak! Saya bersama rekan-rekan mahasiswa tunanetra lain memang menginginkan adanya pembenahan pada jalan-jalan di kampus ini agar lebih tertib dan tidak
mengancam keselamatan kami saat beraktifitas di lingkungan kampus." Kila menerangkan dengan semangatnya.
Beberapa hari lalu, tepatnya 1 bulan pasca pembenahan lingkungan kampus, Kila dan para mahasiswa tunanetra lain beradu argumen dengan para pengurus kampus
mengenai ketidaknyamanan yang mereka alami semenjak ditambahnya areal parkir kendaraan yang menyita sebagian jalan bagi para pejalan kaki. Bagaimana tidak,
penyempitan jalan tersebut menjadikan para tunanetra lebih terancam keselamatannya saat sedang berjalan. Sering kali mereka pulang kuliah dengan sebelah
kaki yang luka akibat tergilas ban sepeda motor, atau tangan yang tergores bagian-bagian kendaraan yang diparkir di sepanjang jalanan kampus.
"Lalu bagaimana? Apa perjuangan kamu berhasil?"
"Mereka bilang akan dibicarakan dulu dengan pihak rektorat dan jajarannya. Setelah itu, barulah lingkungan kampus ini akan dikondisikan seperti semula."
"Kira-kira berapa lama kalian menunggu realisasi dari pihak kampus?"
"Kami beri mereka waktu sampai akhir bulan ini, Pak."
Dosen itu tak melanjutkan lagi pertanyaannya. Dia hanya tersenyum penuh bangga pada Kila, mehasiswi yang baru diajarnya itu.
"Kila, kamu gak ke kantin?" Risma menepuk bahu Kila yang tertunduk di meja seperginya dosen dari ruang kelas.
"Kuliah selanjutnya masih setengah jam lagi, kamu gak laper gitu?"
"Aku lagi gak pingin makan apa-apa, Ris." Risma duduk di samping Kila.
Risma memang salah satu teman yang paling dekat dengan gadis itu sejak smester 1. Dia adalah teman sekaligus sahabat yang setia. Dia selalu mendampingi
kemanapun Kila pergi. Dan yang paling mengharukan, Risma selalu dipercaya Kila untuk menyimpan berbagai rahasia hidupnya.
"Kamu lagi punya masalah, Kil? Cerita dong sama aku!"
Kila tersenyum. Dia tahu betul sifat sahabatnya yang satu itu. Kalau tidak diikuti keinginannya, ngambeknya bisa sampai satu minggu.
"Ini soal Awan." Dia menarik bahu saat mengucapkan nama itu.
"Kamu masih kepikiran terus sama dia, Kil? Aku bilang juga apa, semakin kamu mengejar, dia akan semakin jauh berlari."
"Jadi, maksudmu aku harus berhenti, dan akhirnya membiarkan orang lain yang memilikinya?" Wajah Kila memerah, dia begitu berapi-api saat berkata pada Risma.
"Bukan itu maksudku. Alangkah lebih baik jika kamu berkonsenterasi pada naskah yang harus selesai 2 minggu lagi! Lagi pula sepertinya usaha kamu mengejar
Awan sia-sia."
"Kamu belum tahu dia, Ris! Kamu belum melihat dan bicara dengan dia."
"Kalau gitu kenalin aku sama dia, Kil! Aku jadi kepingin tahu pangeran pujaan siang dan malam bagimu itu!"
Pukul 3 lewat 21 menit, Kila dan Risma menuruni anak-anak tangga di dalam kampus. Mata Kila sedikit merah dan wajahnya agak sedikit pucat. Sepanjang perkuliahan
terakhir itu, dia habiskan untuk tidur dengan menelungkup di atas meja.
"Kamu mau langsung pulang, Kil? Kapan kamu nginap di kosan baru aku?" Risma membuka percakapan di anak tangga terakhir yang mereka turuni.
"Kapan-kapan aja ya, Ris! Sambil aku mau minta dibantuin edit naskah."
Tiba-tiba HP Kila bergetar dalam tasnya. Buru-buru dia membuka tasnya dan mengangkat telepon itu.
"Siapa yang nelpon sih? Kok muka kamu pucat gitu?"
"Ini waktunya kamu kenalan sama dia, Ris!"
"Maksudmu Awan? Awan mau ketemu kamu?"
Sambil memasukan kembali HPnya, Kila mengangguk. Di halaman kantin, Kila mengajak Risma berhenti. Di sana telah ada dua mahasiswa yang duduk sambil mengobrol.
Mahasiswa yang satu keadaannya sama seperti Kila, dia mahasiswa tunanetra yang punya wajah lembut dan tutur kata yang teratur.
"Ini pesanan kamu!" tanpa basa-basi lelaki itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.
"Kamu kenapa belum pulang? Ada kuliah dadakan lagi?" Kila menerima benda itu dengan tangan kanannya.
"Sebenarnya gak ada. Aku main musik sama temen-temen dulu."
"Oya! Kenalin ini temen aku satu jurusan, namanya Nino!" Lelaki yang sejak tadi diam itu mengulurkan tangan pada Killa selanjutnya pada Risma.
"Aku juga mau kenalin temenku."
"Oya? Siapa?" Buru-buru Risma menyalami lelaki itu dan menyebutkan namanya.
"Aku Risma! Nama kamu Awan bukan?"
"Oh! Kamu udah tahu nama aku yah? Kila cerita apa aja sama kamu?"
"Oh, gak. Dia cuma cerita punya temen di jurusan musik namanya Awan."
"Kalau gitu aku pulan dulu, takut kesorean!" Awan berpamitan pada Kila dan Risma. Setelah itu, dia menghilang bersama sepeda motor Nino.
usia 7 tahun, Kila terpaksa harus menerima kecacatan pada kedua matanya setelah melewati berkali-kali operasi. Dokter tak sanggup lagi menangani kerusakan
pada syaraf mata gadis manis itu. Kila akhirnya dibawa orangtuanya pulang ke kampung halamannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Empat bulan pasca operasi, tibalah tahun ajaran baru. Semua teman Kila berbondong-bondong memasuki bangku sekolah. Rupanya nasib gadis itupun tak sedramatis
yang dikira. Sebuah surat pemberitahuan tentang lembaga khusus yang berorientasi pada masalah kecacatan sejenis yang dialami Kila mampu merubah suram di
hati gadis itu. Setelah melewati tahap pertimbangan yang cukup lama, orang tua Kila melepaskan putri mereka untuk diserahkan pada tangan-tangan ahli.
Tak terasa, sudah lebih dari 13 tahun keberadaan Kila di kota besar itu. Sebuah kompleks asrama telah membesarkan dirinya, hatinya, juga harapan-harapannya.
Dia bukan hanya tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan menarik, tapi keberaniannya dalam mengambil sebuah sikap tegas dalam kehidupan itulah yang menjadikan
gadis ini sedikit berbeda dari teman-teman sebayanya.
"Syakila Humaniara!" Kila segera mengangkat sebelah tangannya, saat dosen baru itu mengabsen namanya.
"Kamu? Mahasiswi yang beberapa hari lalu mengajukan protes pada bagian pemeliharaan kampus itu bukan?" Tanya dosen itu serius memandangi Kila.
"Ya pak! Saya bersama rekan-rekan mahasiswa tunanetra lain memang menginginkan adanya pembenahan pada jalan-jalan di kampus ini agar lebih tertib dan tidak
mengancam keselamatan kami saat beraktifitas di lingkungan kampus." Kila menerangkan dengan semangatnya.
Beberapa hari lalu, tepatnya 1 bulan pasca pembenahan lingkungan kampus, Kila dan para mahasiswa tunanetra lain beradu argumen dengan para pengurus kampus
mengenai ketidaknyamanan yang mereka alami semenjak ditambahnya areal parkir kendaraan yang menyita sebagian jalan bagi para pejalan kaki. Bagaimana tidak,
penyempitan jalan tersebut menjadikan para tunanetra lebih terancam keselamatannya saat sedang berjalan. Sering kali mereka pulang kuliah dengan sebelah
kaki yang luka akibat tergilas ban sepeda motor, atau tangan yang tergores bagian-bagian kendaraan yang diparkir di sepanjang jalanan kampus.
"Lalu bagaimana? Apa perjuangan kamu berhasil?"
"Mereka bilang akan dibicarakan dulu dengan pihak rektorat dan jajarannya. Setelah itu, barulah lingkungan kampus ini akan dikondisikan seperti semula."
"Kira-kira berapa lama kalian menunggu realisasi dari pihak kampus?"
"Kami beri mereka waktu sampai akhir bulan ini, Pak."
Dosen itu tak melanjutkan lagi pertanyaannya. Dia hanya tersenyum penuh bangga pada Kila, mehasiswi yang baru diajarnya itu.
"Kila, kamu gak ke kantin?" Risma menepuk bahu Kila yang tertunduk di meja seperginya dosen dari ruang kelas.
"Kuliah selanjutnya masih setengah jam lagi, kamu gak laper gitu?"
"Aku lagi gak pingin makan apa-apa, Ris." Risma duduk di samping Kila.
Risma memang salah satu teman yang paling dekat dengan gadis itu sejak smester 1. Dia adalah teman sekaligus sahabat yang setia. Dia selalu mendampingi
kemanapun Kila pergi. Dan yang paling mengharukan, Risma selalu dipercaya Kila untuk menyimpan berbagai rahasia hidupnya.
"Kamu lagi punya masalah, Kil? Cerita dong sama aku!"
Kila tersenyum. Dia tahu betul sifat sahabatnya yang satu itu. Kalau tidak diikuti keinginannya, ngambeknya bisa sampai satu minggu.
"Ini soal Awan." Dia menarik bahu saat mengucapkan nama itu.
"Kamu masih kepikiran terus sama dia, Kil? Aku bilang juga apa, semakin kamu mengejar, dia akan semakin jauh berlari."
"Jadi, maksudmu aku harus berhenti, dan akhirnya membiarkan orang lain yang memilikinya?" Wajah Kila memerah, dia begitu berapi-api saat berkata pada Risma.
"Bukan itu maksudku. Alangkah lebih baik jika kamu berkonsenterasi pada naskah yang harus selesai 2 minggu lagi! Lagi pula sepertinya usaha kamu mengejar
Awan sia-sia."
"Kamu belum tahu dia, Ris! Kamu belum melihat dan bicara dengan dia."
"Kalau gitu kenalin aku sama dia, Kil! Aku jadi kepingin tahu pangeran pujaan siang dan malam bagimu itu!"
Pukul 3 lewat 21 menit, Kila dan Risma menuruni anak-anak tangga di dalam kampus. Mata Kila sedikit merah dan wajahnya agak sedikit pucat. Sepanjang perkuliahan
terakhir itu, dia habiskan untuk tidur dengan menelungkup di atas meja.
"Kamu mau langsung pulang, Kil? Kapan kamu nginap di kosan baru aku?" Risma membuka percakapan di anak tangga terakhir yang mereka turuni.
"Kapan-kapan aja ya, Ris! Sambil aku mau minta dibantuin edit naskah."
Tiba-tiba HP Kila bergetar dalam tasnya. Buru-buru dia membuka tasnya dan mengangkat telepon itu.
"Siapa yang nelpon sih? Kok muka kamu pucat gitu?"
"Ini waktunya kamu kenalan sama dia, Ris!"
"Maksudmu Awan? Awan mau ketemu kamu?"
Sambil memasukan kembali HPnya, Kila mengangguk. Di halaman kantin, Kila mengajak Risma berhenti. Di sana telah ada dua mahasiswa yang duduk sambil mengobrol.
Mahasiswa yang satu keadaannya sama seperti Kila, dia mahasiswa tunanetra yang punya wajah lembut dan tutur kata yang teratur.
"Ini pesanan kamu!" tanpa basa-basi lelaki itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.
"Kamu kenapa belum pulang? Ada kuliah dadakan lagi?" Kila menerima benda itu dengan tangan kanannya.
"Sebenarnya gak ada. Aku main musik sama temen-temen dulu."
"Oya! Kenalin ini temen aku satu jurusan, namanya Nino!" Lelaki yang sejak tadi diam itu mengulurkan tangan pada Killa selanjutnya pada Risma.
"Aku juga mau kenalin temenku."
"Oya? Siapa?" Buru-buru Risma menyalami lelaki itu dan menyebutkan namanya.
"Aku Risma! Nama kamu Awan bukan?"
"Oh! Kamu udah tahu nama aku yah? Kila cerita apa aja sama kamu?"
"Oh, gak. Dia cuma cerita punya temen di jurusan musik namanya Awan."
"Kalau gitu aku pulan dulu, takut kesorean!" Awan berpamitan pada Kila dan Risma. Setelah itu, dia menghilang bersama sepeda motor Nino.
Braille ditelan buasnya teknologi
Bila kita kembali pada sejarah, dimana seorang penyandang tunanetra asal Negara Perancis mempersembahkan untuk dirinya dan penyandang tunanetra di seluruh
dunia suatu penemuan berharga yang akan menentukan eksistensi penyandang tunanetra hingga akhir masa, Sekaligus mengubah paradigma mata dunia tentang apa
dan bagaimana tunanetra dapat mempersembahkan sesuatu pada dunianya. Huruf Braille yang ditinggalkan Louis Braille seabad lalu, ternyata berdampak sangat
besar bagi perkembangan tunanetra dari masa kemasa. Dengan huruf Braille, tunanetra mengangkat totalitas dirinya dengan berbagai kreatifitas yang membanggakan.
dunia suatu penemuan berharga yang akan menentukan eksistensi penyandang tunanetra hingga akhir masa, Sekaligus mengubah paradigma mata dunia tentang apa
dan bagaimana tunanetra dapat mempersembahkan sesuatu pada dunianya. Huruf Braille yang ditinggalkan Louis Braille seabad lalu, ternyata berdampak sangat
besar bagi perkembangan tunanetra dari masa kemasa. Dengan huruf Braille, tunanetra mengangkat totalitas dirinya dengan berbagai kreatifitas yang membanggakan.
Senin, 14 November 2011
Di Balik Lensa Indo
JINGGA DI MATAMU
Setiap manusia boleh memiliki angan-angan dan harapan yang indah dalam meneratas jalan kehidupannya. Tak terkecuali segolongan manusia mayoritas yang turut andil dalam mengisi paru-paru dunia dimana kelompok-kelompok manusia tinggal dan menjalani kehidupan secara wajar dan bersahaja
Golongan manusia yang hadir dengan perbedaan yang mencolok dari banyak sisi seperti fisik, adalah salahsatunya. Namun jangan lupa, justru kehadiran mereka bisa menjadikan kehidupan yang semerawut dan makin padat ini lebih berwarna.
Tuhan menciptakan siapapun yang dikehendakiNya bukan tanpa alas an, namun ada banyak rahasia indah agar manusia sebagai khalifah yang ditunjukNya memiliki sifat yang peduli dan bersyukur atas segala yang diterimanya.
Minggu, 18 September 2011
Puisi-puisi cintaku
Tinggal Remah-remah Cahaya
Oleh
Nensinur Sastra
di tepian mentari, aku berpekur pilu.
Mataku yang lelah ku paksa terbang ke langit jingga.
Hatiku tertusuk perdunya takdir.
Akankah remah-remah ini pun kan segera hilang.
Di saat aku masih punya segenggam mimpi, bersama setitik saja mata hari.
Namun apalah dayaku,
Yang mencipta punya kehendak di luar nalarku.
Dan remah-remah cahaya imilah, yang mungkin jalanku,
Tuk mencapai puncak ridonya,
Dan sampai suatu waktu remah ini pun diambilnya,
Dan gulita lah sudah dunia dzahirku,
Aku akan berkata,
Mimpiku kan terus berlari,
Meski tak lagi ditemani mata hari,
Langgan:
Entri (Atom)
