Senin, 26 Desember 2011

Dari Perselingkuhan Suamiku

Usai menutup telpon di meja kerjanya, Galang kembali pada setumpuk dokumen di hadapannya, tapi kali ini wajahnya sedikit gelisah. Tumpukan dokumen yang
dua jam lalu dicermatinya kini cukup saja dibolak-balik dan kesimpulannya dia tak lagi berkonsentrasi. Suara Andin yang parau di sebrang telpon tadi jelas
mengharuskan dirinya segera angkat kaki dari kantor pukul dua siang itu.



“Mulan! Saya harus pulang, agenda tamu yang tersisa kensel jadi besok pagi yah”! Sambil merapikan jasnya lelaki tampan itupun berpamitan pada sekretarisnya
yang melongok di depan pintu. Gadis muda nan cantik itupun hanya mengangguk.
Tak butuh waktu lama menuju rumah Andin, Galang tengah memarkir mobil mewahnya di depan rumah mungil bercat hijau itu. Seorang gadis berparas anggun dan
berpenampilan santun menyambutnya di tangga teras dengan senyum sedikit dipaksakan. Gadis itu tampak lebih dewasa dari usianya yang kira-kira duapuluh
limatahunan, tampak dari penampilannya yang masih berseragam dosen sebuah universitas ternama di kota itu. Potongan rambutnya yang sederhana ditambah wajahnya
yang agak pucat semakin mempersendu pandangan siapapun orang di sekelilingnya.
“Asalamualaikum”! Galang menaiki teras sambil mengucapkan salam yang sangat terbiasa pada gadis itu.
“Waalaikum salam”. Andin menjawab lirih sambil mempersilahkan Galang masuk.
Sesaat kemudian, mereka telah terlibat obrolan serius di ruang tamu ditemani minuman hangat yang baru disajikan seorang pembantu. Wajah Andin sudah bberlinang
air mata, dipergelangan tangan Galang dia menangis tersedu-sedu, sedangkan Galang tak terlalu banyak berkata, dia hanya mencoba menenangkan gadis yang
sudah lebih dari delapan tahun itu jadi kekasihnya dengan membelai rambutnya.
“Sudah seminggu Mama pergi, tapi aku masih begini mas, aku masih saja terpukul, bahkan saat mengawasi mahasiswaku ujian saja aku sulit sekali konsentrasi”.
Galang tampak bingung, memang sudah seminggu ini dia harus membagi perhatian antara pekerjaan dengan kesibukan menemani Andin yang kehilangan mamanya.
Mama Andin sudah dua tahun menderita kangker di kepalanya, dan seminggu lalu dia meninggal di rumah sakit di Jakarta. Andin adalah anak satu-satunya, Ayahnyapun
telah meninggal saat dia duduk di bangku SMA. Kini kekasihnya itu sebatangkara, Masih terngiang benar di kepalanya, saat menjelang kepergiannya wanita
berwajah teduh itu meminta Galang segera menikahi putri tunggalnya dan saat itu Galang tak punya pilihan lain selain berkata ya untuk menenangkan wanita
yang amat dihormatinya itu.
“Bersabarlah Din, jika kamu begini terus mama gak akan tenang di sana, dan kamu gak usah khawatir, kan ada aku di sini, aku yang akan selalu menemani kamu”.

“Sepertinya aku harus pergi berlibur mas, kalau terus di sini rasanya aku tak sanggup, sebab harus selalu mengenang mama”. Andin sudah cukup tenang, dia
meneguk teh sambil menyandarkan kepalanya di bahu Galang.
Seminggu kemudian, di ruang tunggu Galang tampak terkantuk-kantuk dengan leptopnya. Pesawat yang ditumpangi Andin mengalami keterlambatan sampai satu jam.
Setadinya dia berniat untuk kembali ke kantor, tapi janjinya pada Andin yang sedari malam diumbarnya terpaksa mengharuskan dia duduk di sana. “Mohon perhatian!
Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan 6116-B dari Singapura telah mendarat”! Beberapa orang yang sedang menunggu penumpang dari pesawat yang diumumkan
tersebut tampak bersiap-siap. Galang tak bergeming, dia tetap duduk sambil berharap pesawat yang membawa Andin segera tiba.
“Aw”! Tiba-tiba dia tersentak sambil menarik sebelah kakinya, Baru saja sebuah sepatu berhak tinggi menginjak kaki kirinya. Pekikan tertahanpun keluar
dari bibir gadis di hadapannya.
“Maaf Mas! Maaf”! Timpal gadis itu seraya menyentuh pergelangan Galang, dia terlihat sangat gugup.””Alika! kamu Alika kan”? Galang berdiri sambil menatap
gadis di hadapannya lurus-lurus.
“Mas Galang? Ia ini aku, Alika”! Seperti ada kekuatan gaib, tiba-tiba mereka sudah dalam keadaan berpelukan, bahkan Galang tampak takjub dengan pertemuannya
dengan gadis cantik bernama Alika itu.
“Mas Galang lagi nunggu siapa”? Alika bertanya sambil merapikan rambutnya.
“A, Aku sedang nunggu teman, dia teman bisnisku dari, eh, Kualalumpur”, Dengan sedikit gugup Galang berbohong. Entah kenapa tiba-tiba ide bohong itu muncul
begitu saja dari kepalanya.
“Oh, yaudah, kalau gitu sampai ketemu ya Mas, kebetulan aku juga harus cepet sampai di tempat kerja. Oya kalau gak sibuk kita ketemu lagi ya mas”!
“ok! Nanti aku hubungi lagi”! jawab Galang sambil tersenyum. Kemudian Alika pergi.
Dalam mobilnya Galang tampak lebih pendiam, dia sesekali tersenyum saja saat menanggapi cerita-cerita seru Andin saat liburannya di Kualalumpur.
“Mas, kok kayanya mas Galang gak seneng gitu sih ketemu ma aku? Mas sibuk banget yah di kantor? Kalau emang sibuk mas gak perlu jemput aku”,
“Ah, gak kok, aku Cuma agak kesel aja pesawat kamu terlambat, kan lumayan aku nunggu sampai dua jam”. Galang mengelak, sebenarnya dalam hatinya dia sangat
senang dengan keterlambatan pesawat itu karena dia bisa bertemu Alika.
Sesudah mengantarkan Andin sampai di rumahnya, Galang langsung menuju kantor,setumpuk pekerjaan dia selesaikan lebih cepat seakan berlomba dengan para
kariawannya. Mulan gadis manis yang sudah dua tahun ini menjadi sekretarisnya ikut terheran-heran melihat pemimpinnya terburu-buru ingin menyelesaikan
pekerjaannya, dengan terpaksa, diapun harus turut sibuk ini-itu sampai dua jam sebelum waktunya bubar kantor, Galang telah cabut dengan sunggingan senyuman
di bibirnya.
“Pak Galang kangen banget kayanya sama bu Andin, sampai-sampai kerja kaya kesetanan gitu”, gunjing beberapa kariawan yang berpapasan dengannya.
Di dalam mobilnya Galang menekan sebuah nomor yang tadi dicatatnya di bandara. Entah kenapa sepertinya dia tak sabar mendengar jawaban di sebrang sana.

“Halo”! Benar saja, tak cukup lama suara setengah serak itupun muncul.
“Halo, Alika! Ini aku Galang, kita jadi ketemu malam ini kan”? Senyum itu tampak mengembang dari bibir galang, saat telpon yang baru saja dimasukan dalam
saku jasnya kembali berdering. Nama Andin tertera di layar.
Di telpon Andin memintanya untuk mampir ke rumah karena dia telah menyiapkan minuman hangat yang dibawanya dari Kualalumpur.
“Maaf sayang, aku gak bisa lama nih, jam tujuh ini aku ada ketemuan dengan teman bisnisku dari Singapur”, Galang menjatuhkan badannya di sofa di ruang
tengah.
“ya, gak apa kok, aku ngerti, kalau gitu, biar gak buru-buru, kamu mandi di sini aja ya mas! Nanti aku siapin baju dan jas kamu”.
“Baju sama jas aku? Emang aku pernah ninggalin di sini yah”? Galang menatap kekasihnya itu bingung.
“Udah, pokoknya mas mandi aja duech”! Tak cukup mengerti Galang segera menuju kamar mandi, dan begitu dia keluar, Andin telah berdiri sambil menyiapkan
satu stel pakayan lengkap dengan jas dan sepatu yang berkilat terkena sinar lampu. Jelas semua masih tampak baru.
“Lihat mas! Keren kan pilihanku? Ini udah aku cocokkan dengan badan kamu kok, ukurannya pasti pas”. Galang menatap dirinya di cermin,diamatinya sepatu,
celana, kemeja, jas dan dasi mahal yang dibelikan Andin. Tentu saja, sangat pas dan sangat serasi dengan kulitnya yang terang. wajar saja sih, sudah lebih
dari delapan tahun mereka menjalin hubungan, Andin sebagai sosok wanita yang sangat teliti, tak perlu sulit untuk mengenali model fisik kekasihnya itu.

“Waw! Keren banget kamu mas! Gak sia-sia aku menguras otak membayangkan dirimu saat memilih pakaian ini”! Pekik Andin yang sedang menyiapkan minuman di
meja.
Galang Cuma tersenyum sambil duduk dan memindahkan saluran televisi.
“Oya Mas? Teman bisbis kamu itu laki-laki atau perempuan? Emang acaranya formil banget yah, sampai aku gak bisa ikut”? Galang tampak gugup, dia memang
tak cukup punya waktu untuk mengatakan kebohongan pada Andin.
“Ah! Laki-laki! Makanya sayang juga aku serapi ini”! Jawabnya sambil matanya lurus pada televisi, dia takut sekali matanya tak bisa bohong di depan Andin.

“Oh, ya kalau gitu gapapa dong, biar bagaimanapun perusahan kamu itu juga terletak pada bagaimana penampilan kamu, meskipun kecakapan dan kecerdasan itu
paling menunjang, tapi kan kalau kamunya juga menjaga penampilan orang akan semakin simpati sama perusahaan kamu”. Andin tersenyum, senyumnya sangat tulus,
tak nampak sedikitpun ada kecurigaan di matanya.
“Sebenarnya aku juga pingin ngajak kamu ikut, tapi sayangnya kita ketemuan di kafe yang kebanyakan pengunjungnya laki-laki, jadi aku malah khawatir kamu
gak nyaman, lagi pula kan kamu baru aja datang, mending kamu istirahat aja di rumah”.
“Ia bener juga, mending aku istirahat aja, soalnya badan aku juga masih agak cape, titip salam aja yah buat teman bisnis kamu, dan semoga urusan kamu sama
dia berjalan lancar”.
Sebelum menaiki mobilnya Andin sempat menyemprotkan parfum ke baju kekasihnya itu, masih oleh-olehnya dari Kualalumpur.
“ok! Selamat bersenang-senang yah”! Andin mencium kening Galang, entah ada rasa sedikit tak enak di hatinya saat mobil Galang meninggalkan halaman rumahnya.


Restoran itu adalah restoran cukup mahal di Surabaya. Orang-orang yang datang ke tempat ini tentu bukan orang sembarangan. Kebanyakan mereka datang dengan
urusan yang paling penting, kalau tidak dalam urusan bisnis, ttentu acara kumpul keluarga atau bahkan pasangan muda yang ingin menikmati kebersamaan dengan
sentuhan mewah dan romantis.
Mobil mewah Galang memasuki parkiran beriringan sebuah mobil yang tak kalah mewah di belakangnya. Seorang gadis cantik duduk di meja yang menghadap ke
luar jendela. Senyumnya mengembang saat Galang memasuki restoran dan mendekatinya.
“Alika! Sudah lama menunggu yah”? Dia menarik kursi di depan Alika.
“Belum lama kok mas”, sambil tersipu dia menerima uluran bukep mawar merah dari tangan Galang.
“Mudah-mudahan bunganya suka ya Lika”? Sebentar kemudian mereka sudah terlibat percakapan hangat dengan hidangan makan malam yang telah dipesan.
“Sejak lulus SMA kita gak pernah ketemu lagi, bahkan acara from night itu juga gak nyangka bakal jadi perpisahan kita”.
“Ya, sebenarnya setelah acara itu aku sering banget kepikiran kamu lo Lik”,
“Emangnya waktu itu Mas Galang langsung tinggal di Surabaya yah”? Alika menyibakan rambut yang menutupi sebagian matanya.
“”Oh! Gak, aku langsung ke Bandung, aku kuliah di ITB, kamu juga kan tahu kalau aku pingin banget jadi ahli dalam perminyakan”.
“Oya, pantas perusahan minyak punya mas Galang itu kelihatannya berkembang pesat sekali, aku ikut seneng lo mas”!
“Kamu sendiri gimana Lik? Setelah lulus dari SMA aku dengar kamu ke Jerman yah”?
“Ya, aku memang ke Jerman, aku kuliah dan ambil jurusan kesting”.
“Loh? Bukannya kamu pingin banget ambil kedokteran yah? Kok malah jadi kesting”? Kali ini Galang sedikit tertawa.
“Aku memang pingin jadi dokter, tapi semenjak aku sering kena alergi kalau melihat darah, aku mundur duech”! keduanya lalu tertawa sambil membahas kejadian
lucu ketika Alika duduk di kelas satu dan Galang di kelas tiga, ketika salahsatu teman galang terluka di lapang basket dan dari hidungnya mengeluarkan
darah, Alika yang ditugaskan merawat di UKS malah pingsan tak kuat melihat darah yang mengalir deras dari hidung teman Galang. Selanjutnya mereka terus
bercakap-cakap sambil bercanda hingga larut malam.
“Setelah ini kamu akan tinggal dimana?” Galang merapikan dasinya sambil memandang Alika
“Aku akan pulang ke Jakarta, kebetulan aku sudah bekerja di salahsatu perusahan tabloit nasional sambil aku juga melepas kangen sama keluarga”.
“Oh, syukur lah, yang jelas kamu gak kan kembali ke Jerman kan”?
“Ya gak lah mas! Rumahku kan di Jakarta, di jerman itu Cuma tempatku kuliah”! Sambil tersenyum Alika menepuk pergelangan Galang yang sedang mempermainkan
mawar di atas meja.

Tiga bulan setelah itu, di sebuah ruangan dalam sebuah rumahsakit, Tangis Andin kembali pecah dalam dekapan Galang. Kenyataan pahit yang baru saja titerimanya
dari dokterkandunganpribadinya yang mengatakan bahwa ada kista di rahimnya sehingga menyebabkan rahimnya yang sedang mengandung enam minggu buah pernikahannya
harus diangkat.
Artinya selain harus siap kehilangan calon bayinya, Andinpun kehilangan kesempatan untuk bisa mengandung lagi.
Dari hari kehari, minggu keminggu dan sudah hampir satu tahun Galang menjalani rumahtangganya bersama Andin, jelas dalam keadaan yang diluar harapan mereka.
Ketidakhadiran anak dalam keluarga kecil mereka menjadikan keduanya sering kali lepas kendali. Andin sering sekali pulang larut dan banyak menghabiskan
waktunya di kampus ketimbang menunggu kepulangan Galang dari kantor. Begitupun dengan Galang, beberapa bulan terakhir ini dia sering sekali bolak-balik
Surabaya Jakarta entah dalam kepentingan apa, yang pasti berlatarbelakangkan pekerjaan. Rumah mewah mereka tampak cenderung sepi dan kosong, Cuma beberapa
pembantu rumah tangga yang sering kebingungan tampak di sana.
Hingga suatu hari Andin pulang sambil membawa sesosok bayi yang diadopsinya dari sebuah panti asuhan. Galangpun tampak tak merespon hangat keputusan sepihak
isterinya itu, dia tampak acuh bahkan sepertinya tak peduli tindakan apapun yang dilakukan Andin.
Rumah mungil itu terletak di pinggiran kota Jakarta, meski tak terlalu besar, tapi nuansa kemewahan dan sentuhan glamor tampak kental dari karakter penghuninya
yang baru satu bulan menempati bangunan baru itu. Yang jadi nyonya rumah adalah seorang wanita muda berwajah cantik yang tampak sedang hamil tua. Sepertinya
tinggal menghitung hari dia akan segera melahirkan putra pertamanya.
Malam itu dia tampak berdiri anggun di teras rumah, rambutnya terurai di pinggang tampak tergerai tertiup angin. Senyum manisnya mengembang saat mobil
suaminya memasuki pekarangan rumah. Sebuah kado cantik tampak di tangannya saat keluar dari dalam mobil itu.
“Sudah bawa kado lagi? Gak bosen beli kado terus”? sambutnya manja saat lelaki itu menaiki anak tangga.
“Kado ini khusus untuk ibunya, yang kemarin-kemarin kan untuk jagoan kecil papa”! lelaki itu mengusap perut wanita itu sambil menggandengnya memasuki rumah.

Di tempat yang berbeda, Andin tengah panik merawat bayinya yang mendadak demam tinggi. Beberapa kali dikontaknya Galang untuk diminta mengantar ke dokter
spesialis anak, tapi telpon Galang selalu mati. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi membawa bayinya dengan taksi.
“Maaf Bu, bayi ibu harus ditangani dokter yang sudah terbiasa menanganinya, karena penyakit bayi ibu ini tidak bisa ditangani oleh sembarang dokter, sebaiknya
ibu membawa dia pada dokter yang sejak lahir merawatnya”.
Tapi saya tidak tahu dokternya Sus, sebab saya baru mengadopsi dia seminggu yang lalu”. Jawab Andin tampak panik.
“Dokter yang merawat bayi ini dokter Renaldi, tapi dia sudah dipindahkan ke rumahsakit anak di Jakarta”.

Andin tampak terkantuk-kantuk di kursi depan ruangan tempat bayinya tengah diperiksa, sudah dua hari dia di Jakarta dan mengurusi bayi itu. Tiba-tiba dia
merasa sangat kangen dengan Galang,sudah berpuluh kalinya dia menelpon Galang tapi tak pernah nyambung. Ditanya ke kantornya juga sekretaris dan kariawan
lain tak ada yang tahu Galang dimana, mereka hanya mengatakan Galang sedang ke luar kota.
Lamunannya mendadak buyar ketika seseorang berbicara di telpon persis di sebelahnya.
“Halo! Mas Galang! Aku udah selesai periksa Enjel nih! Mas jemput sekarang yah”! Wanita cantik yang sedang bicara di telpon itu tampak melangkah pergi,
di belakangnya seorang perawat menggendong sesosok bayi yang masih merah, mungkin bayi perempuan itu berusia sekitar satu minggu.
“Mas Galang”? perempuan itu menyebutkan nama mas Galang? Ah! Bodoh benar aku ini, nama Galang kan ada beribu di dunia ini”, Gumamnya dalam hati meskipun
batinnya sedikit teriris mengingat Galang suaminya telah banyak berubah.

“Ibu, saya harus katakan ini pada ibu, sehubungan kondisi putri ibu yang harus ditangani secara intensif, terpaksa dalam waktu dua atau tiga minggu ini
dia harus mendapat perawatan dengan diperiksa setidaknya seminggu tiga kali”. Dokter Renaldi menerangkandengan serius pada Andin yang terisak.
Sejak hari itu Andin memutuskan tinggal di Jakarta untuk sementara waktu, dia tinggal bersama saudara sepupunya yang menempati rumah keluarganya sewaktu
tinggal di Jakarta.
Pernah suatu hari dia menelpon kantor Galang di Surabaya dan kebetulan hari itu Galang sedang ada, Andin meminta Galang untuk menyusulnya ke Jakarta, namun
tak disangkanya, reaksi Galang luar biasa marah, dia terang-terangan meminta agar Andin kembali ke Surabaya secepatnya dengan alasan dokter di Surabayapun
masih banyak yang mampu. Untuk beberapa waktu Andin tak lagi menghubungi Galang yang dianggapnya sudah keterlaluan itu.
“Halo! Mas galang”! Andin yang baru saja menidurkan bayinya tampak terburu-buru mengangkat gagang telpon.
“Maaf bu Andin, saya Rama mahasiswa bimbingan tesis ibu”!
“oh, maaf! Ada yang bisa saya bantu Ram”?
Sedikit rasa kecewa Andin menutup telponnya. Rama salahsatu mahasiswa yang sedang menyusun teses itu memang tanggung jawabnya sebagai dosen pembimbing.
Pemuda tampan nan cerdas itu kini telah sampai di Jakarta sehubungan belum ditandatanganinya lembar pengesahan tesis yang akan disidangkannya akhir minggu
ini.
“Kalau begitu saya permisi bu! Maaf saya mengganggu kesibukan ibu di sini”! Rama tampak santun saat berpamitan pada Andin yang mengantarnya sampai teras
rumah.
“Saya yang minta maaf Ram, karena urusan pribadi saya sampai lupa kalau masih ada beberapa mahasiswa yang bimbingan dengan saya sampai-sampai harus datang
ke Jakarta”.
“Oh, tak masalah kok bu, saya doakan semoga Rahel cepat sembuh dan ibu bisa kembali ke kampus. Saya juga titip salam buat Bapak”.
Ya, semoga sidangnya lancar dan kamu bisa lulus dengan memuaskan ya Ram”! Andin menarik nafas panjang saat mobil Rama meninggalkan rumahnya. Sebelum dia
membalikan badan, mobil Galang memasuki pekarangan disusul Galang yang berjalan cepat ke arahnya.
“Mas! Kamu dari mana aja sih? Kok kamu gak ada kabar”?
“Kan aku udah bilang! Kamu sebaiknya pulang ke Surabaya! Memangnya aku gak tahu kalau mahasiswa kamu sampai datang ke sini menyusul? Itu artinya kamu sudah
menelantarkan mereka Andin”! Hardik Galang dengan wajah tak suka.
“Tapi kamu gak usah marah-marah begitu mas! Aku kan udah bilang kondisi Rahel sekarang gak memungkinkan dirawat di Surabaya”! Andin tak mau kalah dengan
hardikan suaminya.
“Ah! Terserah lah! Pokoknya aku gak mau tahu! Secepatnya kamu harus pulang ke Surabaya”!
“Mas! Kamu mau kemana lagi sih? Kamu kan baru aja datang”! Andin mengejar Galang yang sudah menstater mobilnya, tapi Galang tak peduli, dia buru-buru meninggalkan
rumah itu tampa menoleh sedikitpun pada Andin.
“Sudah mbak! Jangan ditangisi terus mas Galang, mungkin dia sedang banyak masalah pekerjaan”! Hibur Dinda adik sepupu Andin yang meninggali rumah itu.

“Mending sekarang kita jalan-jalan yuk mbak! Kebetulan sore ini temen kantor Dinda ngadain syukuran anaknya. Rumahnya di daerah Bintaro, tempatnya indah
loh! Sekalian kita cari udara segar aja biar gak suntuk di rumah terus”. Ajak Dinda sambil menaburkan bedak di badan Rahel yang baru dimandikan.
Tak lama kemudian, Andin yang menggendong Rahel bersama Dinda sampai di halaman rumah yang sudah cukup ramai itu. Terlihat beberapa kendaraan telah terparkir
menandakan sudah banyak yang hadir.
Andin turun dari dalam mobil disusul Dinda. Seorang wanita cantik keluar dari rumah dengan senyum ramahnya.
“Hai Din! Sama siapa”? Andin sedikit terkejut. Wanita muda itu adalah wanita yang membuyarkan lamunannya tempo hari di rumah sakit.
“Ini mbak Andin, dia sepupuku dari Surabaya, katanya dia jenuh di rumah jadi aku ajak sekalian, gak apa-apa kan”?
“Oh, ya gak apa-apa dong! Aku senang kok, silahkan masuk Din! Mbak! Oh ya siapa nama putrinya? Cantik banget”!
“Namanya Rahelia”. Jawab Andin sambil mengikuti langkah nyonya rumah itu.
“Oya Lik! Mana suamimu? Sejak kalian nikah aku gak pernah ketemu”!
“Oh ya jelas, abisnya dia kan punya perusahaan di Surabaya, jadi jarang juga di Jakarta, tapi dia ada kok, tadi sih bilangnya masih di jalan”. Andin dan
Dinda bergabung dengan tamu lainnya di ruangan yang telah disediakan.
“Halo! Aku udah mau sampai Lika”! Galang menjawab telpon itu sambil mengebudikan mobilnya.
“Kamu bisa mampir dulu ke toko sumfenir gak mas? Itu loh yang di jalan Anggrek”!
“Ya bisa! Aku mampir dulu buat ambil sisanya kan? Paling duapuluh menit lagi aku sampai”!
“Kenapa dengan Rahel mbak”? Dinda memandang wajah Rahel yang pucat dan menangis keras di pangkuan Andin.
“Aku juga gak tahu Din, mungkin Rahel sakit lagi, bibirnya aja membiru gini”. Andin tampak panik.
“Kita pulang aja mbak, kasihan Rahel, aku takut ada apa-apa sama dia, mbak tunggu di sini, biar aku pamitan sama Alika dulu yah”! Dinda berjalan menghampiri
Alika yang sedang bercakap-cakap dengan beberapa kerabatnya.
“Loh! Acaranya kan belum mulai kok udah mau cabut sih”?
“Ponakanku sakit Lika, kamu harus pulang sekarang”.
“Tapikan kamu belum ketemu suamiku Din”!
“Ya, besok aja aku ke sini lagi duech, oya selamat buat lahirnya anak kamu yah, siapa namanya”? Tanya Dinda sambil melirik Bayi cantik di gendongan Alika.

“Anjelita Aditama”. Andin yang saat itu sudah berdiri di belakang Dinda terhenyak luar biasa. Pantas saja, sebab Aditama yang jadi kepanjangan dari Anjelita
itu adalah kepanjangan dari nama suaminya Galang Aditama.
“ok duech, sampai besok yah, salam buat suamimu”! Merekapun melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman. Rahel tampak tak tenang, dia menangis kencang
dalam pelukan Andin, sementara Dinda mulai menghidupkan mesin mobil dan berlahan-lahan meninggalkan rumah Alika.
Sebelum mobil itu keluar dari pintu gerbang,sebuah Sedan silver yang akan memasuki rumah itupun seketika jadi perhatiannya. Betapa tidak? Wajah yang berada
di belakang kemudi itu jelas tertangkap mata dinda yang segera terlonjak
“Dinda! Cepetan dong! Kasihan Rahel nih! Ucapan sedikit keras Andin tampak membuyarkan keheranan Dinda. Andin memang tak sempat melihat pemilik mobil yang
berpapasan itu, karena dia sibuk menenangkan Rahel.
“Ia mbak, iah”. Dinda gugup, dia segera mempercepat laju mobilnya melesat meninggalkan rumah Alika.

“Sabar ya mbak, kita harusnya mengiringi kepergian Rahel dengan ikhlas, dan mbak harus bisa terima takdir ini, karena ini sudah merupakan yang terbaik
dari Allah”. Dinda mengelus punggung Andin yang masih terisak meski sudah kembali dari pemakaman.
“Sekarang mbak ssendiri lagi Din! Rahel sudah gak ada lagi, mbak gak bisa denger suara tangisnya lagi, tawa lucunya lagi”,
“Mbak bisa adopsi bayi lagi kan”?
“Gak mungkin Din! Mbak rasanya masih belum bisa melupakan Rahel, lagi pula mas Galang gak kan setuju”. Dinda terdiam. Lamunannya kembali pada sedan silver
itu, wajah di balik kemudi itu bukan wajah yang asing baginya.

“Ada apa pak”? Andin gelisah karena mobilnya sudah hamper setengah jam tak bergerak.
“Sepertinya ada kecelakaan bu”! Jawab sopirnya yang juga gelisah.
Beberapa puluh meter di depan sebuah sedan silver tampak mengeluarkan asap, diikuti ledakan yang memekakan telinga. Puluhan polisi berusaha keras mengeluarkan
penumpangnya.
“Pecahkan saja kaca mobilnya pak! Kasihan bayinya”! Seorang lelaki berteriak pada polisi saat menangkap bayangan sesosok bayi di dalam mobil tersebut.

“Bu! Bapak bu”! Andin terkejut luar biasa, ketika melihat siapa orang yang di efakuasi dari dalam mobil tersebut.
Seorang lelaki dan perempuan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Beruntung sesosok bayi merah berhasil diselamatkan setelah kaca bagian depan dipecahkan.

Andin terpekur tak jauh dari kuburan suaminya. Dalam dekapannya Anjelita tertidur tenang.
Sementara Dinda tampak khusuk menaburkan bunga di atas dua makam yang merah itu sambil sesekali menyeka air matanya.
Tak mereka sadari sedari tadi tiga orang polisi berjaga di belakang mereka.
“Ada keterangan yang belum jelas pak”? Tanya Andin heran melihat para polisi itu.
“Tidak bu! Saya ada keperluan dengan saudari Dinda”.
“Ada apa dengan saudara saya”?
“Biar Dinda sendiri yang menjelaskannya bu”!
Andin menatap mata Dinda yang sendu. Gadis Cantik yang sangat menghormatinya itu tampak tenang, didekatinya Andin, Diciumnya keningnya dengan lembut.
“Mudah-mudahan Anjel bisa jadi pengganti aku dan mas Galang di hidupmu mbak”.
Tak sempat berkata, Dinda menyerahkan kedua tangannya pada polisi untuk kemudian punggungnya menghilang di balik pintu mobil baja.

0 komentar: