“Kiranya kapan penderitaan ini berakhir”?
Itu dan itu yang selalu kupertanyaakan dalam hidup ini, tepatnya sejak aku tiba-tiba mengalami kebutaan, saat anak-anakku sangat membutuhkan perananku
sebagai seorang ibu, dan suamiku yang tiba-tiba ingin menceraiku.
Sudah hamper setahun aku berada di tempat ini. Menggali sedikit demi sedikit apa yang bisa kuhasilkan dengan tanganku, dan mengumpulkan puing-puing kepercayaan
atas segala sesuatu yang pernah tumbuh dalam hatiku.
Masih kuingat jelas baying-bayang hitam peretak rumah tanggaku bersama bang Burhan.
Begitu dokter memfonis kebutaan permanent di kedua mataku, sikap Bang
Burhan mulai berubah, dia yang lembut berangsur menjadi kasar, pulang ke rumah sering kali larut malam, bahkan yang lebih menyakitkan adalah seringnya
kata kasar dan tamparan menghiasi rumah tangga yang sudah 17 tahun kami bina.
Aku memang bukan lagi Ningsih yang sempurna. 17 tahun aku melaksanakan tugasku sebagai seorang istri. Aku mengurus dan merawat anak-anak, mengantar jemput
mereka ke sekolah, menyuapi Iman putra bungsuku yang sulit makan, membantu Ilham mengerjakan PR Kimia, membuatkan suamiku sarapan, sampai berjualan kue
kering demi membantu keuangan keluarga. Semua bisa kulakukan tanpa ada yang terlewatkan. Namun sekarang semua berubah, aku telah menjadi buta, Menurut
medis kebutaanku ini dikarenakan adanya hubungan darah yang terlalu dekat dari oorangtuaku, sehingga menimbulkan efek yang serius pada syaraf mataku.
Sungguh kini aku bukan lagi Ningsih yang punya peran penting dalam rumah tangga, bukan lagi ratu tercantik ditengah suami dan dua anak lelakiku. Tepatnya
aku sekarang Ningsih yang berdiam diri, melakukan segala sesuatunya sangat terbatas, Aku harus berjuang keras memasak tanpa tahu banyaknya minyak goring
yang kuteteskan ke penggorengan, tak mampu mengetahui noda coklat yang menempel di seragam Iman dan tak bisa lagi mengantar jemput anak-anak ke sekolah.
Beruntung aku masih memiliki ibu, dia mengambil alih pekerjaan sehari-hari yang biasa kukerjakan, dengan sabar dia mengajariku memasak meski cara yang
digunakan bukan lagi cara memasak sewaktu penglihatanku normal. Dia juga mengajari aku menyetrika dan mengajariku meletakan strika agar tak sampai kusentuh
pada bagian bawahnya. Dia menyemangatiku dan membantuku di tengah penyakit asam uratnya yang kerap kali kambuh.
Sampai datang sebuah tawaran untuk belajar trapi pengobatan dengan pijat dari salahsatu kenalanku. Aku memberanikan diri mendaftar pada lembaga itu, dan
beberapa bulan lagi aku akan lulus.
Tak terasa aku sudah mulai terbiasa dengan kondisiku sekarang, aktifitas di rumah juga berangsur kukerjakan seperti sediakala. Urusan mencuci pakayan,
sampai menyetrikanya, mengurus keperluan Iman dan Ilham, sampai membersihkan rumah sudah kembali kukerjakan sendiri. Yang tak lagi dikerjakan adalah menjual
kue, karena selain aku belum sanggup berkeliling menjajakannya, tiap pagi aku mesti berangkat ke tempat kursus trapi. Kucoba menangguhkan niat bang Burhan
untuk menceraikanku, bukan rasa takut dicerai dan tak mendapatkan nafkah dari suamiku, toh sejak aku menjaditunanetra, bang Burhan sudah tak peduli dengan
apapun yang terjadi di dalam rumah tangga kami. Beruntung aku masih punya sedikit tabungan dari hasil menjahit dan berjualan kue, sebagai tambahan biaya
sekolah anak-anak, aku menjual beberapa perhiasan yang masih tersisa. Semua itu kulakukan agar Rumah tanggaku tak berakhir dengan perceraian. aku ingin
tetap memiliki keluarga yang utuh, seperti janji kami saat duduk di pelaminan dulu. Aku juga tak mau memberikan contoh tak baik seperti perpisahan, karena
itu akan membuat mereka terluka. Biarlah, di mata anak-anak Bang Burhan tetap menjadi ayah terbaik dan bertanggungjawab.
Tapi sepertinya yang kulakukan itu hanya isapan jempol belaka, ketika suatu hari, saat aku pulang kursus, Mbak Ida tetangga sekaligus sahabatku mencegatku
di depan gang rumah kami.
“Aku ada sedikit keperluan dengan kamu Ning”! Ucapnya saat kami sudah berada di ruang tamu.
“Ada masalah apa mbak? apa Iman nakal? dia minta uang jajan terlalu banyak yah”? Aku memang merasa sangat berhutang budi sama perempuan yang usianya hanya
terpaut 2 tahun di atasku itu. Sejak kondisiku seperti ini, mbak Idalah tetanga yang paling peduli terhadap keluargaku, dia mengantar jemput Iman yang
sekolahnya sama dengan anaknya, dia juga membantu Iman mengerjakan PR, bahkan memberinya makan saat aku sedang di tempat kursus.
“Aku bingung dan gak enak sama kamu Ning, tapi aku harus katakan ini agar tak ada salah faham”.
“Katakan saja mbak, apa itu tentang keluargaku”? Aku tak sabar dengan perkataan mbak Ida yang berbelit-belit.
“Bang Burhan”.
“Bang burhan? kenapa sama dia mbak”?
“Dia ingin menikahiku setelah proses perceraian kalian selesai”. Bagai mendengar gemuruh di siang bolong, aku terkejut luar biasa. Ternyata diam-diam bang
Burhan telah benar-benar ingin menyingkirkanku. Bang Burhan ternyata bukan hanya ingin menceraikanku, dia bahkan sudah memilih perempuan lain yang ternyata
tetangga terdekat kami untuk menggantikan posisiku di hatinya.
Aku berusaha untuk terlihat tegar di hadapan mbak Ida, bahkan saat aku pamit pulang, aku sempat menanyakan perkembangan Iman di sekolah. Sesampainya di
rumah, kubanting tubuhku ke atas ranjang. Hatiku benar-benar remuk redam. Kemana Bang Burhan yang 17 tahun ini jadi suami terbaik di hatiku? kenapa dia
begitu tega ingin berpisah denganku? sedemikian jijiknya dia padaku yang sekarang buta? tak tahukah dia bahwa perjuanganku untuk melawan kebutaan ini juga
sangat keras? siapa yang mau mengalami nasib seperti ini,
Di sela-sela tangisku, sayup-sayup kudengar suara televisi yang diputar di ruang tengah. Aku tertegun saat acara yang ditayangkan itu menarik perhatianku.
“Ini adalah mbak Dian Syarif, dia adalah penderita lupus yang sudah berkali-kali mengalami oprasi. Penyakit lupusnya dimulai dari kedua belah matanya,
selain dia harus kehilangan kekuatan tubuhnya, diapun sudah kehilangan penglihatannya secara total.
Beruntung Mbak Dian memiliki seorang suami yang luar biasa, dia setia mendampingi kemanapun mbak Dian melangkah. Dialah yang selalu membesarkan hati mbak
Dian agar tetap tegar melewati semua cobaan ini”.
“Saya akan menjadi mata kedua bagi istri saya, takkan saya biarkan dia menangis terlebih berputusasa dengan penyakitnya”. Suara lelaki itu tampak begitu
tegar saat menjawab pertanyaan pembawa acara yang bertanya tentang perlakuan apa yang akan dia berikan untuk istrinya yang sudah begitu lemah?
“Ya Allah! betapa nasib setiap makhluk di bumi ini banyak yang bertolak belakang”. Aku menjerit dalam hati. Dian Syarif, penderita lupus akut yang sudah
banyak kehilangan kekuatan dalam anggota tubuhnya saja, masih diberikan anugrah seorang suami yang luar biasa rasa cintanya. Sedang aku, yang hanya diambil
penglihatan dan masih mampu melakukan banyak hal, sudah membuat suamiku ingin lari dari sisiku.
Kenapa kamu ingin bercerai dariku Bang? padahal aku sudah berusaha menjadi istri yang baik serta ibu yang bertanggung jawab! kenapa Bang”! Aku tak mampu
lagi mengendalikan emosi saat Bang Burhan pulang.
“Kamu buta! apa yang bisa kuharapkan dari istri buta? jangankan merawat suami dan anak, mengurus keperluanmu sendiri saja tak becus!
“Baiklah kalau emang itu sudah jadi keputusanmu, tapi kenapa mesti mbak Ida yang kamu pilih untuk jadi istrimu disaat kita belum resmi berpisah”?
“Karena memang Ida lebih pantas jadi ibu Ilham dan Iman. Harusnya kamu senang, Ida itu kan sahabat kamu, dia tulus menyayangi anak-anak bahkan lebih dari
sayangnya kamu sama mereka”! Betapa tajam perkataan yang diucapkan Bang Burhan, tega sekali dia mengatakan hal seburuk itu tentang diriku, terlebih dia
membandingkan kasih sayangku pada anak-anak dengan Mbak Ida yang jelas bukan siapa-siapa.
“Anak-anak itu anak kandungku! aku yang melahirkan dan merawat mereka, tak mungkin ketulusan kasih sayangku bisa dilebihi siapapun bang!! silahkan kalau
kamu mau menceraikan aku karena dianggap sudah tak berguna jadi istri, tapi jangan pernah kamu menggantikan siapapun untuk jadi ibu bagi anak-anakku”!
”Kamu fikir dengan kondisi kamu sekarang bisa jadi ibu yang sempurna? dulu mungkin ya, tapi sekarang, sejak mata kamu buta, semua itu jadi mustahil”!
“Cukup Bang! apa kamu fikir kamu juga suami yang sempurna? ayah yang hebat? buktinya, sudah setahun ini kamu tak pernah memberikan nafkah rumah tanga,
semua kebutuhan rumah dan anak-anak aku yang nanggung, padahal kamu sendiri yang bilang kalau aku buta dan tak berguna! buktinya sekarang? dari mana kelanjutan
hidup anak-anak kalau bukan dari kerja kerasku ! fikir dong pake otak kamu Bang”!
Akhirnya aku dapat mengeluarkan semua isi hatiku yang telah kupendam dalam-dalam, yang hamper saja membusuk dan menyisakan luka teramat perih sepanjang
perubahan dalam hidupku. Namun tak kusangka, Bang Burhan malah menampar keras wajahku,dia menamparku bertubi-tubi, sebelum akhirnya anak sulungku Ilham
dating dan menyadarkan suamiku yang sudah seperti kesetanan.
“Berenti Yah! kalau ayah kurang puas pukul saja aku! sudah cukup ibu menderita karena ayah! sudah cukup ayah membuat kekacawan di rumah ini”! Ilham, putraku
yang baru duduk di bangku SMA tampak tegas membelaku.
“Terimakasi Tuhan! engkau masih memberikan anak-anak yang sangat menyayangiku, meskipun suamiku telah jauh membenciku”.
Hari ini sidang terakhir perceraianku dengan bang Burhan berakhir dengan menyedihkan. Meskipun pengadilan menyerahkan anak-anak untuk dirawat bersama,
namun hatiku tetap tak tenang. Bila suatu hari bang Burhan mengambil paksa mereka dariku.
Kini aku sudah mempunyai pekerjaan. Aku diperbantukan sebuah salon sebagai tenaga jasa pijat. Lumayan lah, dengan gaji yang kuterima setiap bulan, insya
Allah aku dapat menghidupi anak-anakku.
Semoga keberkahan selalu mewarnai hidup kami bertiga.
*aamiin*.
Diambil dari kisah nyata seorang sahabat yang sudi mencurahkan persooalannya kepada Penulis.
Semoga dapat diambil hikmahnya.
)
Senin, 26 Desember 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar