Senin, 26 Desember 2011

Perpisahan dengannya

Sore dengan gerimis yang tenang. Tanpa petir terlebih kilat yang menyambar-nyambar.
Bila sekarang aku sendiri menatapnya. Dua tahun lalu aku bersamanya. Berpegang erat dua tangannya, menepis grimis dengan mencari kenyamanan memedamkan
wajahku di balik punggungnya.
Tempat kami duduk bukanlah bangku kramik di tengah taman mawar, hanya sebuah batu 4 sisi di bawah palem setengah gundul. Tapi bukan itu yang kami anggap
pendingin bahagia kami.
Justru keadaan seperti itulah yang menambah syahdunya cinta kami.

Bukan waktu yang sebentar untuk mendapat genggaman tangannya. Boleh dibilang aku mengundang mimpi pada setiap jantung malam.
Dan perpisahan itu harus terjadi juga, saat aku benar-benar membutuhkan tangannya, tuk menambah kekuatan yang semakin rapuh di hatiku.
Sekarang aku tak temukan lagi bayangku di hatinya, tak pula di setiap gerak-geriknya.
Sungguh aku telah melumat. Sepertinya gerimis yang tenang itu, justru dengan ketenangannya, membuatku kecolongan kehilangan cintanya.

0 komentar: