Gerimis itu seperti sedang menangis.
Menangisi apa? Menangisi diriku?
Ah! Konyol, aku saja tak tahu apa hal ini mesti jadi bahan tangisan atau justru bahan perenungan.
J J J
Sebelumnya aku ingin mengucap syukur pada Engkau ya Rob! Atas segala limpahan karunia yang tak terhitung banyaknya, atau tak terukur beratnya, atau tak ternilai harganya.
Aku benar-benar ingin menjadikan tangisan bersama gerimis ini adalah tangis pengharapan atas Rido dan lindunganMu Semata. Bukan untuk mengadukan segala takdir yang jelas telah Kau tentukan sejak aku dalam rahim ibuku.
Entah apa yang menuntun langkahku untuk sekedar tahu sesuatu dibalik Maksudmu Robi,
Ketika sore itu detik-detik menjelang panggilan Shalat maghrib, aku membiarkan diriku terdiam, saat ku sadar mobil angkutan itu telah melewati wilayah asrama yang belasan tahun kutinggali.
Aku hanya diam, ketika sopir itu telah jauh menurunkanku ratusan meter dari pintu gerbang asrama.
Aku turun dari angkot itu tak yakin. Aku harus menyebrangi jalan besar di tengah derasnya hujan. Aku takut Robi! Sejujurnya aku belum pernah berada di jalan tanpa seorangpun teman. Selama bertahun-tahun aku selalu menghindari urusan di malam hari, terlebih tanpa ada orang bermata awas yang menuntunku.
Kini aku harus berjalan sendiri, menuju tujuanku, sendiri dengan kondisi mata yang ternyata sudah tak dapat berfungsi sama sekali.
Beruntung, aku masih menyimpan sebuah tongkat pemberian DD sahabatku, masih terngiang di telingaku, saat sahabat terbaik itu memberikan tongkatnya seraya tersenyum ringan kepadaku.
“Bawa saja tongkat ini, mungkin di waktu siang kamu belum begitu membutuhkannya, tapi siapa tahu suatu malam tongkat inilah yangternyata jadi satu-satunya pembantumu”.
Aku buka tasku dengan tangan gemetar, aku kelluarkan batang tongkat lipat itu dan kutarik tali pengikatnya. Sejurus kemudian tongkat itu telah kugenggam dank u gerak-gerakan pada jalan di hadapanku.
Dengan ragu aku mulai melangkah, tak kuhiraukan tetesan hujan, kemilau lampu-lampu kendaraan, dan deru suara seluruh pengguna jalan yang menemani saat-saat pertamaku berdua sang penolong.
Satu, dua, tiga langkah aku berjalan sukses menyisir bagian kiri badan jalan. Namun di langkah ketiga, tongkatku terantuk pada sebuah mobil besar yang terparkir. Tak masalah, aku terus menyisir jalanan yang basah, kupejamkan dua mataku untuk menghindari silaunya lampu yang menerpa jalan yang licin dan berkilat terkena hujan. Yah. Sinar lampu itu justru menambah tak jelas pandanganku.
Sepanjang jalan aku pun mencoba untuk terus berkonsentrasi, hingga di pada sebuah pertigaan, aku terhenti, lagi-lagi was-was dan bingung saat harus menyebrangi jalan itu menghantui fikiranku. “Ah! Aku ingin menjerit dan menangis! Aku belum pernah pada situasi seperti ini meskipun seumur hidup aku telah menyandang status seorang Tunanetra”!
Namun tiba-tiba terbersit dalam benakku, cerita-cerita teman-teman yang jelas-jelas sudah tak punya sisa penglihatan sama sekali, mereka tettap maju, sabar, dan pantang menyerah dengan keadaan apapun yang pastinya Cuma mata yang bisa menjadi solusi terbaik.
Bermenit-menit aku berdiri berpegang tongkat yang kaku.
Dan Allah tuhanku tahu, Dia tak pernah sanggup melihat HambaNya yang super lemah ini berada pada situasi sulit.
Sebuah sepeda motor merayap perlahan dari arah sebelah kiri. Suara bapak yang ramah menyapaku membuyarkan seluruh ketakutan di dadaku.
“Mau menyebrang dek”?
Tak kuasa menahan rasa bahagia akan pertolongan yang dating aku menyahut nyaring.
“Ya pak! Saya mau menyebrang”.
Sejurus kemudian akupun telah sampai di sebrang jalan dengan bantuan bapak baik yang rela turun dari sepeda motornya hanya untuk menyebrangkan gadis tak tahu diri macam aku. Di sebrang, sebelumk dia melepaskan tangannya, dia berpesan bahwa jalan menuju tempat tujuanku tinggal puluhan meter lurus dari jalan yang tempat kuberdiri.
“Habis ini jalan lurus saja ya Dek! Nanti di perempatan depan belok kanan”!
Setelah mengucapkan terimakasi aku mulai melangkah lagi dengan bantuan sang tongkat.
Namun “Ups”! tongkatku mendapat hambatan dengan menabrak sebuah palang kayu. Aku mulai bingung lagi, palang itu cukup lebar, aku tak bisa meneruskan berjalan di atas trotoar karena palang kayu ini.
Sontak aku turun dari trotoar, Suara bapak yang menyebrangkanku tadi terdengar memanggilku dan mendekatiku. Jangan jalan terlalu tengah dek!” Ucapnya sambil memegang tanganku dan menuntunku kembali pada trotoar setelah melewati palang.
Aku kembali mengucap terimakasi. Kini perasaanku sudah tak karu-karuan, rasa takut, malu, cemas, dan sedih bercampur membuat sebuah gumpalan hitam, pekat dan sangat menyeramkan dalam dadaku.
Maka, langkahkupun semakin tak beraturan, aku percepat langkahku, kuhentakan ujung tongkat ke tanah dengan keras. Bandanku semakin limbung, air hujan telah membasahi seluruh pakayan dan wajahku. Akupun tak dapat lagi membedakan antara air mata dan air hujan di wajahku.
Akibat dari ketidak stabilanku itulah, perjalanan semakin sulit, beberapa langkah dari palang kayu itu, dua kakiku tercebur pada genangan air yang cukup dalam. “Huh! Tak apa lah, Cuma air kotor, nanti bisa aku bersihkan, meskipun ksebenarnya, jika aku lebih hati-hati, aku masih bisa menghindarinya”.
Setelah genangan air, tongkatku kembali bertemu palang yang bukan lagi terbuat dari kayu, melainkan besi. Karena aku melangkah cukup cepat, dagukupun ikut menjadi korban, dia terantuk palang besi itu dan menimbulkan rasa sakit luar biasa.
“Aduh”! kali ini aku mengaduh. Sebelum sempat mencari jalan aman, suara seorang bapak yang mungkin sedari tadi memperhatikanku terdengar agak cempreng menegurku.
“Neng kan orang Pajajaran, kok masih belum hafal jalan sih?”? dia bertanya sambil menuntunku ke pinggir jalan yang tinggal beberapa meter lagi menuju perempatan.
Aku tak menyahut kata-kata si bapak, dia tak tahu, kalau inipun adalah pengalaman pertama aku berjalan sendiri dengan tongkat di malam hari.
Aku juga memang pernah tinggal di sini bertahun-tahun, tapi jujur saja, dalam situasi seperti ini, dengan kemilau sinar lampu, berpadu deru kendaraan dan petir di atas kepalaku, membuat rute ataupun fisik jalan yang sehari-hari jadi kekuasaanku menjadi total atau blenk dari fikiranku.
Aku ingin sekali menyahut pada si bapak, tapi, ah! Tak ada gunanya. Akupun bertemu bibir trotoar di ujung perempatan, dari sana fikranku sudah kembali normal, aku sudah jauh lebih faham situasi, dengan berjalan lurus melewati mini market, rumahsakit bersalin, tempat cukur rambut,dan sebuah tempat makan, aku akan sampai di pintu gerbang asrama yang kini ditinggali teman-temanku.
Puji Syukur, tak membutuhkan waktu lama pintu gerbang itupun telah tersentuh tongkatku, seorang bapak penjual buah yang sering melihatku saat berangkat dan pulang kuliah menyapaku heran.
“Ssendiri teh? Sudah bisa pake tongkat sekarang”?
“Emm, ia mang!” Sahutku pelan, aku memang tak berminat bicara banyak dalam situasi itu.
Setibanya di asrama, adik-adik dan teman-temanku menyambutku gembira, aku tak menceritakan pengalaman perdanaku itu, karena kesedihan, ketakutan, telah berganti kebahagiaan karena aku selamat sampai tujuan.
Ya Allah, Engkau maha tahu apapun yang akan terjadi, sudah terjadi bahkan yang sedang terjadi pada diriku, Maka satu permohonanku, Berikan aku kelapangan dalam setiap menerima ujian dalam hidupku, karena ku yakin, hal itulah yang akan meningkatkan derajatku di Matamu.”.
Andai kalian semua tahu, dan mungkin aku akan sedikit memberi tahu, kami para tunanetra punya hadiah indah dari Allah yang bila kami sabar menjalaninya, hadiah itu akan diberikan pada kami semua.
Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh Allah SWT berfirman: Jika Kuberi cobaan pada hambaKu dengan mengambil kedua kesayangannya, maka ia bersabar, kubalas dengan
sorga, yang dimaksudNya (SWT) adalah kedua mata hambaNya” (Shahih Bukhari)

0 komentar:
Poskan Komentar