Senin, 02 Januari 2012

ADA APA DI BALIK TAK EFEKTIPNYA JPO DI JALAN PAJAJARAN BANDUNG?



Seperti yang telah dikutip berbagai media cetak maupun elektronik akhir-akhir ini,
Jembatan penyebrangan yang dikhususkan pemerintah kota Bandung bagi para Difabel dirasa kurang efektif bahkan lambat laun akan jadi tidak efektif lagi.
Jembatan setinggi 8 meter dengan tekstur melandai ini memang berbeda bila dibandingkan dengan jembatan penyebrangan pada umumnya.
Tahun 2005 lalu jembatan ini berdiri kokoh setelah pemerintah kota Bandung menerima keluhan dari para difabel khususnya penyandang tunanetra dan tuna daksa yang banyak beraktifitas di sekitar jalan Pajajaran Bandung.
Pertimbangan lainnya adalah, kompleks PSBN Wyataguna yang menjadi pusat penyandang tunanetra berada  tepat di seberang GOR Koni dan banyak digunakan organisasi penyandang tuna daksa dan para difabel lainnya beraktifitas.
Perubahan jalur kendaraan yang diberlakukan sejak awal tahun 2004 itu mengakibatkan kecemasan tersendiri bagi mereka atas berubahnya jalur kendaraan menjadi satu arah

Berdirinya JPO ini ternyata masih saja menyisakan sedikit masalah bagi para difabel (pengguna JPO).
Mereka mengeluhkan tekstur jembatan yang menurun menanjak dengan jumlah kurang lebih 4 kali panjangnya dari jembatan biasa mengakibatkan proses menyebrang menjadi sangat melelahkan.
Pembuatan jembatan dengan model seperti itu dimaksudkan agar para penyandang tuna daksa yang mengunakan cruk dan kursi roda dapat memanfaatkan pula sarana ini.
Sejak awal dipergunakan hingga sekarang, banyak permasalahan yang timbul dan dirasakan langsung oleh para pengguna JPO. Ukuran jembatan yang sangat panjang dengan dilengkapi penutup di bagian atasnya, menjadikan jembatan ini punya daya tarik tersendiri bagi beberapa pihak yang sama sekali tak berkepentingan dengan daya guna sarana ini.
Jika kita melewati jembatan unik ini, tak jarang kita temukan para pengemis, orang hilang ingatan, bahkan dipertengahan malam digunakan untuk kejahatan.
Para tunanetra yang seharusnya menikmati fasilitas ini sebagai alternative menyebrang yang lebih aman, justru mengalami banyak kejadian tak menyenangkan.
Cerita tentang dimaki-maki pengemis yang terinjak kakinya saat tertidur di jembatan sampai cerita diolok-olok dengan kata-kata kasar oleh orang yang kurang waras menjadi cerita sehari-hari dari mereka yang menyebrang dengan JPO ini.
Bahkan, cerita yang mengerikan pernah dituturkan seorang tunanetra yang mengalami perampokan saat dia tengah menyebrang di malam hari.

Permasalahan di atas lama kelamaan menjadikan JPO di Pajajaran bukan lagi sarana menyebrang yang efektif bagi para difabel, dan pada akhirnya mereka lebih memilih menyebrang dengan jalan bawah jembatan meskipun harus menunggu orang yang bersedia membantu.

Sebenarnya permasalahan ini tak perlu ada, bila semua pihak ikut peduli dengan turut andil mengawasi dan mengamankan JPO supaya lebih bermanfaat.
Para petugas keamanan yang disiagakan di pintu gerbang GOR dan Wyataguna dekat jembatan ini diharapkan bekerjasama untuk kenyamanan penyebrangan.
Sedikit kepedulian dari semua pihak akan kembali menjadikan sarana yang dibangun dari dana tak sedikit ini tidak menjadi sia-sia.




0 komentar: