Selasa, 03 Januari 2012

my beautiful stories on New Year's Eve


Malam tahun baru oleh kebanyakan orang dijadikan moment untuk bersukacita.
Banyak di antara mereka khususnya kalangan muda merayakan dengan cara-cara klasik seperti menyalakan petasan dan kembang api, berkumpul bersama teman-teman di tempat menyenangkan, atau mungkin melaluinya dengan hanya berkumpul bersama keluarga tercinta sambil menyaksikan hiburan para artis negeri di depan televise.



Untuk diriku pribadi sebenarnya tak begitu memiliki cerita yang unik. Namun, ada sesuatu yang romantis yang tak kusadari telah menghinggapi batinku tepat di malam pergantian tahun kemarin.

Malam itu sebenarnya aku merasa kurang enak badan, hingga kuputuskan untuk melewatkan malam pergantian tahun di kamar kecil sewaan di jalan Pasir Luyu Bandung.
Sepulangnya dari tempat aku bekerja di LSM UMV, aku langsung menuju tempat kosku yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari kantor.
Dengan wajah lusuh karena tak bersemangat, aku membuka kunci kamar yang telah 6 bulan kutempati itu.
Sewaktu kamarku telah terbuka, suasana sepi, bosan dan kering tiba-tiba menyeruak dalam dadaku.
“Ah”! lagi-lagi aku akan terperangkap di kamar hening ini. Meskipun ini malam tahun baru, dimana tidak semua orang wajib merayakannya, terlebih melewatinya dengan hal-hal berbau negative atau mendekati dosa, lebih baik memang aku di sini. Yah, merenungkan apa saja yang telah terjadi di tahun 2011 kemarin, kemudian berintrosfeksidiri dari setiap kegagalan dan kesalahan yang telah dilakukan selama setahun kemarin.

Hmm, tapi kok rasanya keadaan di atas kasur mungilku ini tampaknya membuat aku sangat tak nyaman. Hingga pada akhirnya, aku putuskan untuk bangun dari atas perlindungannya yang seakan sedingin salju ini, dan seperti kamar ini mengusirku. Akupun bergegas mengganti pakaian tidur yang baru beberapa menit menempel di badanku. Sebelum akhirnya, aku menggantinya dengan pakaian yang telah kupersiapkan di dalam lemari kecilku.
Yah, hari itu, menjelang malam pergantian tahun, aku putuskan memakai satu stel pakaian dengan sebuah jins hitam, sebuah kaos ketat berwarna merah yang kututupi dengan sebuah cardigan berwarna hitam. Untuk menutup rambutku, aku pakai sehelai kerudung berwarna sama dengan kaosku.
Hmm, cukup kukira. Pakaian ini cukup simple, dan aku tak perlu banyak memikirkan lagi penampilanku ini, karena memang sehari-hari aku selalu berpenampilan menarik bukan? *PD*

Sejurus kemudian aku telah berada di asrama yang belasan tahun pernah mengasuhku. Setelah berbasa-basi dengan beberapa orang teman dan adik-adik di asrama, aku putuskan untuk menumpang istirahat sejenak di salahsatu ranjang sahabatku Tri. Tri sahabat terbaik yang pernah kupunya. Dia sudah aku kenal sejak kami masih duduk di bangku SD di tahun 1994 lalu. Tri anaknya manis, sama cerewetnya denganku. Sejak kecil kami selalu dekat. Tri penderita katarak permanent, Ayah dan kakak laki-laki satu-satunyapun merupakan penderita katarak dalam kondisi lowvision permanent. Dia lebih beruntung dibanding diriku, karena kondisi matanya tidaklah mengalami penurunan seperti halnya dengan kondisi mataku yang terus menerus mengalami penurunan.
Jarak pandang Tri masih sangat baik, dulu waktu kami kecil, jarak pandangku sama seperti dia, kami malah sering memanfaatkan sisa-sisa penglihatan itu dengan permainan-permainan yang masih melibatkan cahaya penglihatan. Kami sering bermain lompat tali, bola kasti bahkan kamipun sering berlomba melukis atau mewarnai.
Yah, sering pertumbuhan kami, aku dan Tri pun semakin memperlihatkan perbedaan dari banyak hal. Meski hal itu tidak signifikan, namun sering kali perbedaan itu jadi alat untuk kami berselisih faham. Saking dekatnya aku dan sahabatku itu, kami sering kali bertukar pakaian atau bahkan sering bertukar mainan. Mungkin itulah mitosnya, mengapa kita tidak boleh saling tukar barang pribadi dengan teman, karena selain pamali, akan menimbulkan perpecahan atau malah akan terjadi pertukaran pasangan. Huh, itu mitos yang terjadi juga pada aku dan Tri.
Di tahun 2002-an, aku pernah menjalin hubungan cinta monyet dengan seorang teman lelaki yang dikenalkan kakakku. Saat itu aku remaja kelas 2 SMP. Umurku menginjak 15 tahun. Kacau yah? umur 15 tahun baru kelas 2 SMP? Kemana aja kamu Nensinur? Atau jangan-jangan pernah gak naik kelas yah? :D
Biarin! Yang penting kan masih bisa sekolah. Ketimang orang-orang yang mampu sekolah tapi malah menghabiskan umurnya untuk bersenang-senang menghabiskan duit ortu. Bener gak? :D

Tak lama hubungan cinta monyetku dengan si do’I, keburu ketahuan kakakku dan aku diancam bakal gak dikasih uang jajan kalau masih terus pacaran. *katanya sambil jewwer telinga aku*
 Setelah aku putus dengan si do’I, tersiar kabar bahwa mantanku sekarang tengah dekat dengan sahabatku Tri. Ah, sebenarnya aku sangat marah, kecewa dan sediiiiiiih, minta ampun. Tapi mau diapakan lagi? Nasi sudah jadi bubur, gak lucu banget kan, kalau tiba-tiba aku dating pada mereka berdua yang sedang asyik PDKT di luar jendela kamar tidurku untuk kemudian aku memohon-mohon pada do’I untuk kembali jadi cinta monyetku? Meskipun aku akan bilang kalau dia bukan lagi cinta monyet tapi cinta gajah sekalipun. Ah, tapi kan gak lucu juga mentang-mentang gajah lebih bohai dari monyet aku mesti lebay-lebay naikin nilai cinta aku seumpama gajah. :D

Ah sudah lah, yang penting aku bisa meneruskan hidup melupakan sang do’I dengan melanjutkan sekolahku yang waktu itu diterima di sebuah SMU negeri paforit di kota Bandung.
Hmm, nah loh, kalau kita mau berusaha, kita pasti bisa. Ya kan?
Sesuai dengan pepatah, “Manjada Pamanjada” barang siapa yang bersungguh-sungguh, pasti dia bisa.
Nah, bener kan? Si Nensinur salah lagi pribahasanya? Ah biarin lah, yang penting maksudnya gitu aja yah? :D
Oh yah, kok jd malah ngelantur sih Nensinur? Kita kan mau berbagi cerita malam pergantian tahun? Kok malah jadi curhat tentang cinta monyet?
Ah, biarin lah, biar para pengunjung rumah miringku gak pada bosen ya kan? :D
Nah, itulah kawan, mitos yang terjadi padaku dan Tri tentang pertukaran pasangan. :D
Sampai bertahun-tahun mereka menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Yah, namun ada berita kurang sedap beberapa minggu terakhir ini, ketika aku mendapat kenyataan, bahwa sang do’I, memutuskan untuk meninggalkan sahabatku Tri untuk menikah dengan wanita pilihannnya. Hmm, Nah loh? Sedih banget kan teman?
Ups! Udah ah Nensinur kok malah buka-buka kisah hidup orang lain sih? Kan bisa jadi berabe secara belum minta izin dari yang bersangkutan! :D

Bellum selesai teman, mitosku untuk berbagi kekasih tepatnya pada sahabatku Tri, karena, bisik punya bisik tetangga nih, kemarin, dia bilang, kalau dia juga agak naksir sama mantan keduaku Eby!
“Hah”! apa lagi nih si nona? Dulu gantiin posisi aku di hati sang do’I sewaktu remaja, eh, sekarang mau mbat lagi mantanku yang paling lucu setelah dia putus dari aku.
Hmm, gak ah! Untuk yang satu inimah gak kan aku serahkan begitu saja! Hehe,

Nah teman,  kita kembali ke leptop yah?
Malam terus merangsak meninggalkan sang jingga yang semakin redup. Pada akhirnya wajah sang Fajar yang telah merona jingga itupun harus mengalah untuk ditutupi selembar kain hitam namun bukan milik nenek sihir apa lagi nenek lampir, namun milik sang dewi bulan yang sebentar lagi akan menduduki tahta kerajaan malam dengan seberkas sinarnya yang anggun rupawan. *lebay lagi*

Hup! Bt juga yah udah jauh-jauh dating ke asrama tapi nyatanya gak punya temen buat sekedar duduk-duduk dan menyaksikan pergantian tahun?
Secara, semua teman-teman termasuk Tri malah sibuk dengan pasangannya masing-masing. Uh, tahu mau kayak gini mending tadi aku bermesraan aja duech di kamar kecil sewaanku.
Tapi tunggu dulu niiiih, karena ternyata, ada sebuah pesan singkat yang belum sempat kubaca di layer handphondku. Sit swiiiiiiiw! Siapa tuh Nensinur? Kok bibir kamu menari-nari gitu sih? Emangnya ada yang aneh dengan pesan singkatnya yah?
Ups, tunggu dulu! Aku bacain yah! Nih isinya niiiih!
“Halo Nensi! Malam tahun baru dimana nih? Aku kebetulan lagi di WG nih, kalau Nensi belum ada acara kita jalan yuk”!
Hmm, hmm, sekedar pemberitahuan yah, WG itu sebutan singkat dari Wyataguna.
Tanpa ragu terlebih malu, akupun segera membalas pesan singkat itu yang isinya tentu saja berupa persetujuan yang menyenangkan. :D

Centil ah si Nensinur! J
Biarin! Toh kamu gak bilang juga aku udah tahu? :D

Setelah saling berbalas pantun, ups, berbalas SMS maksudku, akupun segera bangkit dari ranjang Tri yang sudah setengah ambruk itu. Maklum badan Tri agak bohai sih, jadinya nih ranjang lama-lama merasa keberatan menahan berat badan bohainya. :D
Segera kurapikan pakaian yang sudah acak-acakan bekas kubenamkan tadi di ranjang Tri. Penuh semangat 45, akupun merapikannya dan tak lupa memperbaiki mukaku yang udah ancur ini dengan beberapa perlengkapan perang dalam tas kosmetik mungilku. Kububuhkan bedak, lalu lips bam, loshen, dan  jurus terakhir adalah menyemprotkan sedikit saja parfum ke bagian tangan dan kardiganku.

Udah siap nih! Ayo berangkat!

Tungu! Tunggu dulu! Mau kemana Nensinur? Kan dia belum bilang janjian dimana? Kok udah buru-buru lompat aja sih? Kecentilan ah!
 Gampang! Gampang! Kamu gak tahu kan? Sang some one telanh menungguku di luar asrama tahu? Emang harus aku certain semua yah kegiatanku? Termasuk cerita SMS terakhir bahwa some one malaikat penyelamat kesepianku telah menunggu di depan pintu?
O o o o, tidaaaak! Gak usah lah yah? :D

Sekarang aku dan dia tengah duduk di sebuah bangku dalam sebuah taman kecil yang menghadap ke lapangan. Di atas kami sebuah pohon flamboyant gundul yang tinggal menghitung hari kematiannya tampak berdiri kaku siap mendengarkan sebuah perjanjian singkatku dengan sang malaikat.
Hmm, ngaco lagi nih si Nensinur. Pake GR segala sama si kurus flamboyant. :D  emangnya ada apa sih kamu dengan sang malaikat?semua orang juga tahu, kalau antara kamu dengan dia itu gak ada hubungan apa-apa. Seluruh dunia juga tahu kok! Kalau gak percaya? Coba aja Tanya tuh si mungil jangkrik yang sedang melolong-lolong di bawah kaki kamu, dia juga tahu, kalau kamu sama lelaki hitam manis di sebelah kamu itu tidak pernah ada hubungan apapun. Cuma teman, “Cuma teman Nensinur”!
Ups! Jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya! Pelan-pelan aja kenapa sih? Kamu kira aku ini udah buta budek pula?
Cie Cie? Nensinur ngambek! Lari ah! “Kabuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuur”!

Malam terus merambat, udara Bandung semakin dingin menusuk tulang. Tak terasa kami telah berjam-jam duduk di taman kecil ini ditemani suara deru kendaraan dari jalan raya yang berada hanya beberapa meter dari punggung kami. Suara trompet terdengar bersahut-sahutan ditimpa suara petasan dan kembang api yang semakin memberondong karena ternyata, sekitar 1 jam lagi tanggal pada kalender akan segera berakhir di angka 31 Desember 2011. Dan itu artinya, pukul 00,00 menit, tahun 2011 akan meninggalkan kita semua. Tak terasa memang, 3 jam kami duduk di tempat ini, sungguh membawa kesan yang dalam, khususnya pada aku yang memang jarang bicara dengan pemuda lulusan PLB yang ddiwisuda 6 bulan lalu ini.
Ada beberapa hal yang kami sempat bahas secara serius namun terasa sangat santai. Kami bicara seputar pasca kelulusan dari kampus yang sama, kami bicara masalah pekerjaan dan aktifitas selama beberapa bulan terakhir ini, sampai pembicaraan pada urusan cinta. Yah, ada kesimpulan yang sama-sama kami ambil dari pembicaraan menyenangkan ini. Di antaranya, kami sama-sama ingin mengejar karir dalam hal pekerjaan, daripada  terus-terusan mengejar yang namanya cinta yang sudah jelas-jelas sering membuat kami terjatuh.
Kami sama-sama menyaadari, bahwa yang namanya cinta, itu adalah sesuatu yang suci. Untuk itulah, hal sesuci itu akan lebih pantas diserahkan pada yang Suci pula. Yah, biar nanti Tuhan yang akan datangkan cinta sejati nan suci pada kita. Dan semua akan indah pada waktunya.

Tak terasa alarem yang sudah kupasang di handphondku telah berbunyi dengan nyaringnya, jam sudah menunjukan tepat pukul 24,00 menit. Aku dan dia segera bangkit dari bangku tempat kami duduk, sejurus kemudian, kami berlari-lari kecil menuju jembatan penyebrangan yang tak jauh dari tempat itu. Tangannya membimbingku ketika menaiki jembatan itu. Sesampainya kami di atas jembatan, aku dengan sisa penglihatan yang ada, masih dapat menangkap cahaya berwarna-warni yang disusul dentuman kembang api dari berbagai penjuru kota Bandung. Warna merah, biru, hijau, kuning, sangat menyilaukan mataku.
Beberapa saat kami mematung di atas jembatan itu, sambil menikmati detik-detik pergantian tahun. Wajahku tengadah ke langit. Warna-warni itu mengantarku pada puncak angan yang sangat tinggi, ada seba’it do’a yang aku panjatkan pada Tuhan, tentang sebuah keajaiban, yang akan kuraih indah di tahun yang baru ini. Untuk karirku, keluargaku, dan untuk semua kisah indah yang ingin kudapat setelah di tahun ini aku menerima banyak ujian dan keputusasaan.

Semakin lama warna-warni cahaya kembang api dan dentuman petasan itupun semakin mereduk. Baru kusadari, kalau sejak kami berdiri di tempat ini, tangannya tengah menggenggam tanganku. Dengan bersamaan kamipun melambaikan tangan pada langit. Ada Sesungging senyuman untuk membuka tahun dengan harapan. Yah, semoga harapan ini bukan Cuma harapan kosong, tapi harapan yang akan kami perjuangkan di tahun yang baru ini.
“Selamat tinggal tahun 2011! Selamat dating tahun 2012!”

“kuucapkan terimakasih pada malaikat penolong sepiku! Semoga kita bisa bertemu lagi”





3 komentar:

Yeti Widayanti mengatakan...

cie cieeeee....cinta mulai bersemi lagi nih...wit wiiiiwwwwww

Ai Cahyati mengatakan...

cihuy,,, asiiiikkk,,, nggak nyangka deh :D

Nensinur. Sastra. mengatakan...

oh, oh, bukan kan cuma teman biasa aja. eh, eh, jgn pada ngegosip ah. :)) tks yah udah pada main ke sini. :D